BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dirasakan warga Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Rabu, 2 September 2026.
Kondisi tersebut diperparah dengan masih panjangnya antrean kendaraan di sejumlah SPBU untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Andi, warga Pangkalan Bun, mengatakan kabut asap pada Rabu pagi masih cukup tebal. Kondisi itu membuat aktivitas warga, termasuk saat mengantre BBM, menjadi semakin tidak nyaman.
“Pagi tadi masih lumayan tebal kabut asapnya. Kondisi udara seperti ini lumayan membuat pernapasan saya terganggu,” kata Andi.
Menurut Andi, masyarakat tetap harus mengantre di SPBU meskipun kondisi udara sedang kurang baik akibat kabut asap.
“Walaupun pagi tadi asap lumayan tebal, kami tetap harus antre BBM di SPBU. Mau tidak mau karena BBM juga kebutuhan,” ujar Andi.
Andi menuturkan, antrean untuk mendapatkan Pertamax saja masih cukup panjang. Sementara masyarakat yang memilih membeli BBM secara eceran harus mengeluarkan biaya lebih mahal.
“Untuk mendapatkan Pertamax saja antreannya lumayan panjang. Kalau harus beli di eceran, harganya bisa mencapai Rp20.000 per botol,” kata Andi.
Sementara untuk Pertalite, menurut Andi, antreannya cenderung lebih panjang karena banyak masyarakat yang membutuhkan BBM dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kalau Pertalite, antreannya tambah panjang lagi,” ujarnya.
Andi mengaku heran karena persoalan antrean BBM tersebut hingga kini belum juga terselesaikan. Padahal, sebelumnya sudah ada pertemuan yang melibatkan sejumlah pihak untuk membahas persoalan distribusi BBM di Kobar.
“Beberapa waktu lalu saya baca di berita sudah ada pertemuan dengan pihak Pertamina, SPBU, anggota DPRD dan masyarakat pengguna BBM. Tapi hasilnya, antrean panjang belum juga selesai sampai saat ini,” kata Andi.
Menurut Andi, kondisi tersebut menjadi semakin berat bagi masyarakat ketika bersamaan dengan munculnya kabut asap akibat karhutla.
“Pagi tadi asap lumayan tebal, tapi tetap harus antre BBM di SPBU. Kondisi udara itu lumayan bikin pernapasan saya terganggu,” keluhnya
Ia berharap persoalan kabut asap dan distribusi BBM yang masih menyebabkan antrean panjang segera mendapat perhatian dan solusi dari pihak terkait.
“Jadi kami sebagai masyarakat bisa berharap pada siapa lagi?” ujar Andi. (WAHYU KRIDA/j)









