BORNEONEWS, Sampit - Rumah Aman Asap di Kelurahan Mentawa Baru (MB) Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, menjadi tempat perlindungan sementara bagi warga yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
"Rumah aman asap, tapi kalau misalnya untuk masyarakat lebih bisa mengenal juga dengan rumah bebas asap. Kalau untuk bahasa sebenarnya dari Ranu Welum Foundation itu namanya adalah haze shelter. Haze shelter itu yaitu untuk penanggulangan pertama relawan atau masyarakat yang terdampak kabut asap di Kotawaringin Timur," kata Lurah MB Hilir Putri Noorgeulis Fimaulyahar, Rabu, 2 September 2026.
Ia menjelaskan, Kelurahan MB Hilir berperan menyediakan lokasi, sedangkan fasilitas dan dukungan penanganan diberikan oleh Ranu Welum Foundation.
Awalnya, Rumah Aman Asap direncanakan berada di rumah warga atau lingkungan permukiman. Namun, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, terutama berkaitan dengan lokasi dan luas ruangan.
Karena itu, pihak kelurahan kemudian menawarkan ruangan di Kantor Kelurahan MB Hilir sebagai lokasi yang dinilai lebih memenuhi kebutuhan fasilitas tersebut.
"Awalnya itu kita ingin dibentuk di rumah warga atau di lingkungan warga. Namun karena memang ada kriteria tertentu, jadi kita tawarkan di Kelurahan Mentawa Baru Hilir. Ternyata dari Ranu Welum Foundation yang memberikan fasilitas itu sesuai dengan tempat ini, jadi kita berikan fasilitas tempat di sini, di kelurahan," ujarnya.
Ia menjelaskan Rumah Aman Asap tidak hanya diperuntukkan bagi warga sekitar. Relawan yang berada di lapangan dan masyarakat umum juga dapat memanfaatkan fasilitas tersebut ketika membutuhkan tempat untuk mengurangi paparan asap.
Ranu Welum Foundation menempatkan sekitar dua hingga tiga orang untuk membantu pelayanan selama fasilitas beroperasi.
"Kalau untuk pelayanan sendiri, ada dari Ranu Welum Foundation sendiri itu ada 2 sampai 3 orang yang berjaga setiap jam 10.00 pagi sampai malam," tambahnya.
Pelayanan juga didukung LPMK Kelurahan MB Hilir. Salah satu anggotanya merupakan pegawai IGD RSUD dr Murjani Sampit sehingga dapat membantu apabila terdapat pengunjung yang membutuhkan penanganan seperti pemasangan oksigen.
Dalam pelayanan sebelumnya, jumlah warga dan relawan yang datang mencapai sekitar 15 hingga 20 orang.
"Rata-rata kemarin itu relawan-relawan dari Palang Merah Indonesia, kemudian juga dari beberapa relawan pemadam kami dan juga masyarakat umum," katanya.
Selain menjadi tempat berlindung dari kabut asap, Rumah Aman Asap juga memiliki fasilitas penunjang untuk kondisi tertentu.
Warga yang membutuhkan nebulizer untuk keluhan yang tidak tergolong darurat dapat memperoleh layanan di lokasi sehingga tidak selalu harus pergi ke rumah sakit.
Sementara untuk kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, tersedia dukungan ambulans dari Relawan Ketapi 3 dan Relawan Masjid Jami As-Salam.
"Kita sediakan juga fasilitas ambulans dari Relawan ketapi 3 dan Relawan Masjid Jami As-Salam itu langsung dilarikan ke IGD. kalau misalnya tidak urgen seperti untuk nebuilzer, bisa masyarakat di sini saja tidak ke rumah sakit," bebernya.
Adapun, Rumah Aman Asap tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 malam.
Lebih lanjut, Noorgeulis mengatakan kondisi kabut asap di kawasan perkotaan Sampit masih cukup terasa, terutama pada pagi hari. Kabut asap cenderung lebih pekat sejak pagi hingga sekitar pukul 08.30 WIB. Kondisi kemudian relatif membaik pada siang hari.
Ia menambahkan, sejumlah titik kebakaran di wilayah MB Hilir berada tidak jauh dari kawasan permukiman. Beberapa wilayah yang disebut di antaranya Jalan Pelita Barat dan Jalan Mohammad Hatta.
"Dan untuk titik-titik api kebakaran, itu banyak di daerah Pelita Barat, Mohammad Hatta rata-rata kebakaran itu di kawasan dekat pemukiman, dekat perumahan-perumahan," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









