BORNEONEWS, Palangka Raya — Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih meluas di Kalimantan Tengah, perhatian publik tertuju pada kehadiran aktris sekaligus aktivis lingkungan Sherina Munaf yang turun langsung ke kawasan terdampak, termasuk wilayah lahan gambut.
Tanpa agenda seremonial, Sherina membagikan dokumentasi di media sosial yang menyoroti kondisi bara api di bawah permukaan tanah serta perjuangan petugas dan relawan di lapangan.
Kehadirannya juga menyoroti sisi yang sering luput dari perhatian: dampak karhutla terhadap satwa liar. Sherina menekankan bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut memaksa satwa seperti orangutan kehilangan habitat dan mencari ruang hidup yang lebih aman.
Hal ini sejalan dengan peringatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng yang mengingatkan kebakaran dapat mengganggu habitat satwa yang dilindungi.
Selain memantau langsung kondisi di lapangan, Sherina juga mendorong masyarakat untuk memberikan dukungan nyata bagi upaya penanganan karhutla maupun penyelamatan satwa yang terdampak.
Aksi tersebut mendapat respons positif di media sosial, dinilai memberikan perhatian tambahan terhadap pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menghadapi bencana ekologis yang dampaknya tidak hanya dirasakan manusia.
Merespons hal tersebut, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, Agustan Saining, menegaskan penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
“Penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Semua unsur harus bergerak sesuai kewenangan dan perannya masing-masing,” ujarnya, Rabu 2 September 2026.
Pernyataan ini sejalan dengan arahan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran yang terus memperkuat pemantauan melalui posko dan Pusdalops guna merespons dinamika di lapangan secara cepat.
Agustan menjelaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama. Penanganan tidak hanya melalui pemadaman api, tetapi juga mencakup pencegahan dan mitigasi, terutama di kawasan gambut yang memiliki karakteristik khusus.
“Karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Dengan kerja sama dan koordinasi yang kuat, kita dapat melakukan pencegahan lebih dini serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” tambahnya.
Kehadiran Sherina menjadi pengingat bahwa dampak karhutla jauh lebih luas daripada sekadar titik api dan luas lahan yang terbakar. Ketika hutan dan lahan gambut terbakar, ekosistem, habitat satwa, kualitas udara, dan ruang hidup masyarakat ikut terancam.
Oleh karena itu, peran pemerintah, aparat, relawan, organisasi lingkungan, dunia usaha, dan masyarakat diperlukan secara bersinergi untuk menghadapi bencana ekologis ini. (PATHUR/Y)









