BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di RT 01 Desa Siong, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, masih mendapat perhatian tim gabungan setelah api membakar lahan warga sekitar 2 hektare, Rabu, 2 September 2026.
Karakter lahan yang terdiri dari material kering, semak belukar dan gambut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan. Meski kobaran api berhasil dikendalikan, petugas belum meninggalkan lokasi dan melanjutkan proses pendinginan serta pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Penanganan karhutla dilakukan sejak sekitar pukul 13.00 WIB setelah masyarakat melaporkan adanya titik api. Mendapat informasi tersebut, tim gabungan langsung bergerak menuju lokasi untuk memutus penyebaran api agar tidak meluas ke area lahan lainnya.
Camat Paju Epat Fredi Tangkasiang turut turun langsung dalam penanganan bersama personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD Damkar, Masyarakat Peduli Api (MPA), Pemerintah Desa Siong dan Damkar PT ISA.
“Begitu mendapat laporan dari masyarakat, kami bersama tim langsung melakukan penanganan di lokasi. Saat ini api masih dalam proses pendinginan untuk memastikan tidak kembali menyala,” kata Fredi Tangkasiang.
Lahan yang terbakar diketahui merupakan lahan milik warga di RT 01 Desa Siong. Kondisi lahan yang kering dan dipenuhi semak belukar membuat api relatif mudah mendapatkan bahan bakar. Keberadaan lapisan gambut juga membuat penanganan membutuhkan perhatian lebih karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran api telah terlihat padam.
Sebanyak 3 personel Polri, 3 personel TNI, 13 personel BPBD Damkar dan 15 anggota MPA dikerahkan dalam penanganan tersebut. Pemerintah Desa Siong turut membantu operasi bersama personel Damkar PT ISA.
Untuk mendukung mobilitas dan proses pemadaman, tim mengerahkan lima unit kendaraan roda dua, satu unit kendaraan roda empat dan tiga unit kendaraan roda enam. Tiga unit alat pendukung pemadaman juga digunakan dalam operasi di lokasi.
Fredi menegaskan, pendinginan menjadi tahapan penting untuk memastikan kebakaran benar-benar terkendali. Petugas harus menyisir area yang sebelumnya terbakar untuk mencari titik panas yang berpotensi berkembang menjadi kobaran baru.
“Kami masih melakukan pendinginan bersama personel dan masyarakat. Karena terdapat gambut dan semak belukar, kami harus memastikan titik-titik yang masih panas benar-benar aman,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi lahan membuat pemadaman tidak cukup hanya dengan menghilangkan api yang terlihat di permukaan. Tim juga perlu mengantisipasi kemungkinan api bertahan atau merambat melalui bagian bawah permukaan lahan, terutama pada area yang memiliki kandungan gambut.
Karena itu, personel gabungan bersama masyarakat melakukan penyisiran dan pendinginan secara menyeluruh di sekitar area terdampak. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah munculnya kembali titik api sekaligus mengantisipasi kemungkinan kebakaran merambat ke bagian lahan lainnya.
Fredi juga mengapresiasi peran masyarakat yang cepat menyampaikan informasi ketika melihat adanya titik api. Respons cepat tersebut dinilai membantu petugas melakukan penanganan sedini mungkin sebelum kobaran berkembang menjadi lebih luas.
“Kami mengharapkan masyarakat tetap memberikan informasi apabila melihat adanya titik api. Dengan laporan yang cepat, penanganan juga bisa segera dilakukan,” katanya.
Hingga laporan ini disampaikan, tim gabungan masih berada di lokasi untuk melakukan pendinginan dan pemantauan. Kondisi lahan terus diperiksa guna memastikan seluruh titik panas telah terkendali dan tidak kembali berkembang menjadi karhutla.
Penanganan di Desa Siong sekaligus menjadi pengingat bahwa kondisi lahan yang kering, ditambah semak belukar dan gambut, membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan. Pemantauan pascapemadaman menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran kembali muncul dan meluas ke lahan warga di sekitarnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









