BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Kondisi personel Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan atau Satgas Karhutla Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih terpantau cukup baik hingga Rabu, 2 September 2026.
Namun, petugas yang berada di lapangan mulai mengalami kelelahan karena harus melakukan pemadaman dalam waktu panjang di tengah medan sulit, minimnya sumber air, serta pola kebakaran yang berubah akibat angin kencang.
Kepala Bidang Operasi Satgas Karhutla Kobar 2026, Dwi Agus Suhartono, S.E., M.Acc., mengatakan, secara umum seluruh personel masih dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan tugas. Meski demikian, tingkat kelelahan mulai meningkat setelah petugas bekerja secara intensif dalam beberapa hari terakhir.
“Pada prinsipnya personel masih dalam kondisi fit, hanya memang sudah mulai mengalami kelelahan,” kata Dwi Agus.
Menurutnya, pola kebakaran lahan pada tahun ini berbeda dibandingkan kejadian sebelumnya. Pada tahun-tahun terdahulu, kobaran api biasanya mulai mereda dan padam sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB, sehingga penanganan dapat dilanjutkan keesokan harinya.
Sementara tahun ini, angin yang cukup kencang membuat api justru membesar pada sore hingga malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan petugas harus terus melakukan pemadaman dan pengawasan agar api tidak menyebar semakin luas.
Untuk menjaga kesehatan personel, Dinas Kesehatan Kobar telah mengerahkan tenaga medis guna mendukung Satgas Karhutla. Petugas kesehatan ditempatkan di Posko Induk Tanggap Karhutla maupun di sejumlah lokasi penanganan kebakaran.
Selain kelelahan personel, sumber air menjadi tantangan terbesar dalam proses pemadaman. Kondisi kemarau panjang menyebabkan persediaan air di sekitar lokasi kebakaran sangat minim.
Keterbatasan tersebut membuat kendaraan dan unit pemadam terpaksa masuk ke kawasan yang sebenarnya sulit dijangkau.
“Kami terpaksa memaksakan unit masuk ke area-area yang sebenarnya sulit dijangkau karena ketersediaan air untuk pemadaman sangat kurang,” ujar Dwi Agus.
Pada sejumlah lokasi, petugas bahkan harus menggotong mesin pompa dan selang sejauh satu hingga dua kilometer untuk mencapai kepala api. Kondisi medan yang berat juga memperlambat proses pemadaman.
Menghadapi situasi tersebut, Satgas Karhutla melakukan pemetaan terhadap lokasi kebakaran yang harus menjadi prioritas penanganan. Kebakaran yang mendekati rumah dan permukiman warga menjadi sasaran utama pemadaman.
“Karhutla yang sudah mendekati permukiman menjadi prioritas kami. Mau tidak mau, kami harus menentukan titik mana yang bisa dikejar dan mana yang sementara harus dilepas,” jelasnya.
Penetapan prioritas dilakukan karena jumlah personel dan peralatan yang tersedia masih terbatas. Sementara titik kebakaran tersebar di lokasi yang berjauhan dan sebagian sulit dijangkau melalui jalur darat.
Meski menghadapi berbagai kendala, sinergi penanganan karhutla di Kobar dinilai berjalan cukup solid. Tim gabungan melibatkan Pemerintah Kabupaten Kobar, TNI, Polri, BPBD, Damkar, Manggala Agni, PMI, tenaga kesehatan, serta relawan.
Pada Rabu, 2 September 2026, tim darat juga mendapat tambahan dua unit mobil pemadam kebakaran yang digeser oleh Brigif TP 40/Huma Betang.
Tambahan kendaraan tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pemadaman, terutama di kawasan yang mulai terancam oleh pergerakan api.
Di tengah perjuangan tersebut, Satgas Karhutla Kobar juga tengah berduka. Salah seorang relawan dari Huma Singgah Itah, Kelurahan Mendawai, meninggal dunia dua hari sebelumnya.
Kehilangan tersebut menjadi duka mendalam bagi seluruh tim gabungan yang selama ini bersama-sama berada di garis depan menghadapi kebakaran hutan dan lahan. (ARIEF/H)
FOTO: Personil Satgas Karhutla Kobar 2026 Sedang Memadamkan Salah Satu Titik Api di KM 13 Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama (TENGKU REZA)









