SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Di atas pepohonan yang mengering dan tanah yang menghitam bekas dilalap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), satu individu bertahan di atas pohon. Di bawahnya, kepulan asap masih terlihat dari sisa bara yang belum sepenuhnya padam.

Pemandangan itu terlihat di kawasan Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu, 2 September 2026.

Pohon tempat orangutan bertahan tampak kering. Sementara di sekelilingnya, lahan gambut menyisakan warna hitam akibat terbakar. Beberapa titik bahkan masih mengeluarkan asap, menandakan api belum sepenuhnya mati di bawah permukaan.

Kawasan tersebut berbatasan langsung dengan areal perkebunan sawit milik masyarakat. Di tengah kondisi hutan yang terbakar itulah, satu individu dilaporkan terlihat bertahan di atas pohon.

Awalnya, petugas menduga hanya ada satu individu yang terjebak. Namun setelah proses penyelamatan dilakukan hingga malam hari, fakta berbeda ditemukan. Bukan satu, melainkan dua orangutan berada di kawasan tersebut. Keduanya merupakan induk dan anak.

Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan laporan pertama diterima sekitar pukul 11.00 WIB dari seorang anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli penanganan kebakaran hutan dan lahan di sekitar lokasi.

"Pada hari Rabu, 2 September 2026 sekitar pukul 11.00 siang tadi, kami mendapat laporan dari anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli terkait kebakaran hutan dan lahan di wilayah sini. Terus dari anggota TNI kami dilaporkan bahwa ada satu individu orangutan yang terjebak di areal bekas kebakaran," kata Muriansyah, Rabu, 2 September 2026.

Mendapat laporan tersebut, Muriansyah bersama anggota TNI langsung menuju lokasi untuk memastikan keberadaan satwa dilindungi tersebut.

"Setelah kami menemukan orangutan tadi, kami langsung melapor ke pimpinan di Pangkalan Bun dan sesuai arahan dari pimpinan, teman-teman yang berada di kantor Seksi Pangkalan Bun bersama dengan pihak OFI (Orangutan Foundation International) langsung ke lokasi," imbuhnya.

Penyelamatan kemudian berlanjut hingga malam. Ketika bius berhasil ditembakkan dan orangutan terjatuh dari sarangnya, saat itulah tim menemukan fakta bahwa orangutan yang berada di kawasan lahan terbakar tersebut ternyata berjumlah dua individu.

"Dan malam hari ini, alhamdulillah ternyata bukan satu individu, tapi dua individu orangutan yang berhasil dilakukan kegiatan rescue," ujar Muriansyah.

Ia menyebut, ada alasan mengapa orangutan tersebut tetap bertahan di atas pohon meski kondisi sudah malam. Muriansyah menduga orangutan memilih tidak turun karena kondisi di bawah pohon masih menyisakan bara api. Dalam situasi normal, orangutan seharusnya mulai turun dan membuat sarang di tengah pohon saat siang hari. Namun kali ini perilaku tersebut tidak terlihat.

"Orangutan bertahan di pohon itu karena takut turun diduga karena panas di bawahnya ada bara api," bebernya.

Kondisi itu membuat tim tidak ingin menunda proses penyelamatan hingga keesokan harinya. Terlebih, orangutan dapat berpindah lokasi kapan saja dan akan semakin sulit ditemukan di kawasan hutan yang terbakar.

"Kalau misalkan kita sampai besok menunggu besok dikhawatirkan pagi nanti sebelum kita tiba di sini, orangutan sudah bergerak dan kalau kita lihat situasi yang sangat sulit menemukan orangutan dengan kondisi hutan terbakar seperti ini," katanya. 

Proses penyelamatan tidak berlangsung mudah. Selain medan bekas kebakaran, tim juga harus bekerja dalam kondisi malam hari dengan pencahayaan yang terbatas.

"Kalau yang dari awal sampai dengan sekarang mungkin faktor malam pencahayaan agak kurang tapi syukur alhamdulillah dapat dilakukan untuk kegiatan rescue," tambahnya.

Tidak hanya gelap, tim juga harus berhati-hati karena bara api masih ditemukan di sekitar lokasi.

"Areal tadi pas di lokasi itu masih ada kita temukan bara, bara api. Jadi saat dilakukan kegiatan rescue, kita harus hati-hati dengan bara yang ada," tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, penyelamatan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak membahayakan tim maupun satwa yang hendak dievakuasi.

Setelah berhasil dievakuasi, kedua orangutan kemudian menjalani pemeriksaan dan observasi oleh tim dokter dari Orangutan Foundation International (OFI).

"Sampai saat ini setelah kami melakukan evakuasi, evaluasi dan observasi terhadap orangutan yang kami rescue, alhamdulillah kondisinya masih terlihat baik. Dan juga saya koordinasi juga dengan Pak Muri bahwa bagaimana kondisi orangutan di lapangan sebelum saya tiba, bahwa orangutan itu masih aktif dan juga masih memberikan respon sehingga dari kondisi fisiknya itu masih terbilang baik," kata Dokter hewan dari OFI drh Ichlasul Khaerul.

Dari hasil pemeriksaan awal, kedua orangutan diduga mengalami paparan asap akibat kebakaran. Namun kondisinya belum menunjukkan dampak berat.

"Tentunya pasti terpapar asap. Karena kita lihat daerah sekitar ada beberapa lokasi yang terkena dampak kebakaran, tentunya asapnya juga memberikan efek kepada orangutan. Namun dari kondisinya itu tidak begitu parah, jadi masih tergolong rendah karena bisa kita lihat dari aktivitas orangutan," bebernya.

Menurut Ichlasul, respons orangutan selama proses evakuasi menjadi salah satu indikator bahwa kondisinya masih cukup baik. Ia menjelaskan, jika kondisi orangutan mengalami paparan asap yang parah, biasanya satwa tersebut akan terlihat lemas, kurang memberikan respons saat proses pembiusan, atau hanya berbaring di lokasi sarangnya.

Dari pemeriksaan fisik, induk orangutan diperkirakan berusia sekitar 20 tahun. Perkiraan usia tersebut didasarkan pada referensi serta jumlah gigi yang telah tumbuh. Sedangkan sang anak yang erat mencengkeram induknya tersebut diperkirakan masih berusia satu tahun.

"Baik induk maupun anaknya itu kami tidak menemukan luka, jadi tidak ada luka bakar, peluru atau apapun, atau luka terbuka atau terkena mungkin patahan dari pohon atau apa, benturan juga tidak ada sama sekali yang kami temukan," tuturnya.

Tim medis juga mengambil sejumlah sampel dari kedua orangutan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka. Sampel darah dan rambut berhasil diambil. Sementara sampel feses belum ditemukan dan direncanakan akan diupayakan setelah orangutan makan.

"Mungkin ada dehidrasi, tapi tidak separah itu, karena tipikalnya juga mungkin ada individu yang memiliki pembuluh darah kecil jadi enggak begitu kelihatan. Kadang ada juga individu yang sangat kelihatan pembuluh darahnya," jelasnya.

Hasil observasi fisik secara umum juga menunjukkan kondisi kedua individu orangutan masih baik. "Dari sejauh ini observasi yang kami lakukan bahwa dari lingkar perut juga, dari rongga dada itu semuanya itu terlihat baik. Tidak ada tulang yang sangat kelihatan jelas. Jadi semuanya kondisinya baik," bebernya.

Setelah proses rescue di Hutan Kota Sampit selesai, kedua orangutan akan dibawa ke BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II di Pangkalan Bun untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

"Selanjutnya, Tentunya kami akan berkoordinasi bersama pihak BKSDA, tentunya kami akan bawa ke BKSDA SKW II di Pangkalan Bun, selanjutnya nanti dari sampel darah yang kami ambil, kita akan periksa ke lab," terang Ichlasul.

Nasib kedua orangutan setelah pemeriksaan kesehatan akan ditentukan berdasarkan hasil evaluasi tim. Jika kondisinya baik, maka akan dilanjutkan dengan translokasi berdasarkan lokasi yang ditentukan dari pihak BKSDA.

Sementara itu, Muriansyah menjelaskan bahwa setelah rescue, keputusan mengenai pelepasliaran akan menunggu hasil penilaian kesehatan.

"Setelah kegiatan rescue, ini akan dibawa ke kantor Pangkalan Bun dan dari hasil penilaian tim dokter, nanti baru bisa diputuskan bahwa misalkan orangutannya sehat, akan segera langsung dilepasliarkan di wilayah biasanya ada dua, kalau tidak di Taman Nasional Tanjung Puting, bisa di Suaka Margasatwa Lamandau," jelas Muriansyah. 

Kemunculan orangutan di sekitar kawasan yang terbakar menjadi pengingat bahwa karhutla tidak hanya mengancam manusia dan lingkungan, tetapi juga memaksa satwa liar meninggalkan habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman.

BKSDA mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan atau lahan terbakar agar tidak melakukan tindakan sendiri apabila menemukan satwa liar.

"Bagi warga yang khususnya berada di sekitaran hutan yang saat itu lokasinya sedang terbakar ataupun setelah terbakar dan menemukan atau melihat satwa liar, khususnya satwa liar yang dilindungi misalkan orangutan, beruang madu, Tringgiling, kukang, dan lain-lain, segera melapor kepada BKSDA setempat," ucap Muriansyah.

Warga diminta tidak mencoba menangkap, mengejar, melukai atau melakukan tindakan lain terhadap satwa yang masuk ke kebun maupun mendekati permukiman.

Bagi dua orangutan yang ditemukan di kawasan Hutan Kota Sampit tersebut, malam itu menjadi perjalanan menuju tempat yang lebih aman. Induk dan anak orangutan itu akhirnya berhasil diselamatkan dari kawasan yang masih menyisakan bara. Keduanya kemudian diberi nama Raya dan Rayu. (DEWI PATMALASARI/j)