JAKARTA –

BORNEONEWS, Makassar – Persoalan mikroplastik di laut dinilai harus ditangani sejak dari daratan karena sebagian besar sampah yang berasal dari aktivitas masyarakat berpotensi masuk ke perairan dan terfragmentasi menjadi partikel plastik berukuran kecil.

Pakar mikroplastik Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Shinta Werorilangi mengatakan, sekitar 90 persen sampah yang berasal dari aktivitas di daratan berpotensi mencemari laut dan menjadi sumber mikroplastik.

“Sampah tersebut berasal dari berbagai aktivitas masyarakat, terutama rumah tangga, yang kemudian dapat bocor ke lingkungan melalui kanal, drainase, sungai, dan berbagai saluran air sebelum bermuara ke laut,” kata Shinta di Makassar, Rabu, 2 September 2026.

Menurutnya, persoalan mikroplastik tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan sampah sejak dari sumber. Sampah plastik berukuran besar yang tidak ditangani dengan baik dapat mengalami pelapukan dan pecah menjadi partikel yang jauh lebih kecil.

Ia menjelaskan, seluruh jenis plastik berpotensi menjadi mikroplastik, tergantung jenis material dan lamanya berada di lingkungan.

Proses fragmentasi tersebut dapat berlangsung lebih cepat ketika sampah berada di perairan akibat pergerakan air, paparan cuaca, suhu serta kondisi lingkungan.

“Pergerakan air, paparan cuaca dan suhu, serta kondisi lingkungan dapat mempercepat proses plastik terfragmentasi menjadi bagian yang lebih kecil,” ujarnya.

Plastik berbahan tipis, menurut Shinta, cenderung lebih mudah mengalami pelapukan dibandingkan material yang lebih tebal. Semakin lama sampah plastik dibiarkan di lingkungan, semakin besar pula peluangnya terpecah menjadi mikroplastik.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah dengan memisahkan sampah organik dan anorganik atau sampah basah dan kering.

“Pemilahan itu juga membuat kita memisahkan antara sampah kering dan sampah basah, atau sampah organik dan sampah anorganik,” katanya.

Pemilahan sejak sumber dinilai dapat mempermudah proses pengolahan dan daur ulang sekaligus mempertahankan nilai ekonomis material yang masih dapat dimanfaatkan.

Sebaliknya, sampah yang tercampur dan menumpuk di tempat pembuangan akhir akan semakin kotor sehingga lebih sulit dipilah dan berpotensi kehilangan nilai ekonominya.

Shinta juga menilai peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam pengelolaan sampah diperlukan, mulai dari proses pemilahan, pengolahan hingga daur ulang.

Edukasi kepada masyarakat dinilai penting agar perubahan pola pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga.

Ancaman mikroplastik juga tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekosistem laut. Partikel kecil tersebut dapat tertelan biota seperti ikan, udang dan kepiting, kemudian berpotensi masuk ke rantai makanan.

Karena itu, menurut Shinta, pencegahan pencemaran mikroplastik harus dimulai dengan menekan kebocoran sampah plastik dari daratan ke lingkungan.

Pengurangan penggunaan plastik, pemilahan sejak sumber, pengolahan dan daur ulang menjadi sejumlah langkah yang dinilai penting untuk mengurangi beban sampah yang berakhir di laut.

ANTARA