BORNEONEWS, Moskow – Rusia dan Afrika Selatan sepakat memperkuat koordinasi di forum internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta menolak penggunaan isu hak asasi manusia (HAM) sebagai instrumen tekanan geopolitik.
Kesepakatan itu disampaikan Direktur Departemen Kerja Sama Multilateral HAM Kementerian Luar Negeri Rusia Grigory Lukiyantsev setelah bertemu Wakil Direktur Jenderal Tata Kelola Global dan Agenda Kontinental Afrika Selatan Xolisa Mabhongo di Pretoria, Rabu, 2 September 2026.
“Perhatian khusus diberikan pada koordinasi langkah-langkah di forum internasional, terutama di PBB,” kata Lukiyantsev melalui Telegram.
Menurutnya, kedua pihak membahas penggunaan isu HAM dalam persaingan geopolitik dan menekankan pentingnya menjaga independensi lembaga-lembaga internasional.
“Kami membahas secara mendalam upaya melawan politisasi isu HAM dan penggunaannya sebagai instrumen tekanan geopolitik serta persaingan tidak sehat,” ujarnya.
Rusia dan Afrika Selatan juga menyatakan perlunya mematuhi Piagam PBB, menjaga ketidakberpihakan lembaga internasional serta menghindari standar ganda dalam menilai kondisi HAM di berbagai negara.
Selain isu HAM, kedua negara membahas kerja sama dalam memerangi rasisme dan diskriminasi rasial.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut kerja sama tersebut akan dilakukan antara lain melalui dukungan terhadap berbagai inisiatif di PBB serta persiapan memperingati 25 tahun Konferensi Dunia Menentang Rasisme yang pernah digelar di Durban, Afrika Selatan.
Kedua pihak juga sepakat melanjutkan koordinasi dalam sejumlah agenda internasional tahun ini, termasuk peringatan instrumen internasional terkait HAM dan Deklarasi PBB tentang Hak atas Pembangunan.
Menurut Lukiyantsev, konsultasi tersebut mencerminkan kesamaan pandangan antara Rusia dan Afrika Selatan serta membuka peluang memperkuat kemitraan kedua negara di tingkat internasional.
ANTARA









