BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyediakan 22 layanan Rumah Oksigen bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap.
Fasilitas tersebut tersedia di PSC 119 dan 21 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan di Kotim. Layanan ini telah berjalan sejak awal Agustus 2026 atau sekitar satu bulan.
"Rumah oksigen ada di PSC 119 dan 21 Puskesmas sudah 1 bulan dari awal Agustus. Jadi total untuk rumah ama Di Puskesmas itu kita menyediakan fasilitas oksigen, baik di untuk nebu. kebanyakan keluhannya Sesak napas. Rata-rata sesak napas," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Kotim dr Noorliyana, Kamis, 3 September 2026.
Warga yang mengalami sesak akibat kondisi lingkungan berasap dapat mendatangi Rumah Oksigen. Beberapa kasus juga terjadi ketika warga terpaksa mengungsi karena rumahnya berada di sekitar lokasi kebakaran.
"Atau misalkan seperti di PSC kemarin karena rumahnya terkurung api, lalu dia sesak, dibawalah ke PSC 119," tambahnya.
Noorliyana menjelaskan layanan Rumah Oksigen dibuka selama dua puluh empat jam setiap hari. Warga maupun petugas yang mengalami keluhan pernapasan dapat memanfaatkan fasilitas tersebut.
Hingga saat ini, layanan tersebut telah dimanfaatkan berbagai kalangan, termasuk petugas yang berada di lapangan maupun masyarakat umum.
Penanganan dilakukan sesegera mungkin setelah warga mengalami keluhan. Menurut Noorliyana, durasi pemulihan setelah mendapatkan oksigen bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
"Semakin cepat ditangani, semakin mudah untuk kembali seperti semula. Setengah jam sampai satu jam biasanya sudah bisa, tergantung kondisi sampai sesaknya seperti apa," jelasnya.
Bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap, pemberian oksigen menjadi salah satu tindakan awal yang dilakukan petugas.
"Untuk warga yang terdampak asap tindakan paling cepat pemberian oksigen. Kalau memang lebih parah, dikasih obat, sesuai keluhannya. Misalnya ISPA maka harus dikasih obat batuk," katanya.
Ia menyebut sebagian besar keluhan yang ditangani berkaitan dengan sesak napas. Kondisi tersebut dapat terjadi karena tubuh mengalami kekurangan oksigen saat berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk.
"Tapi rata-rata karena sesak napas kurang oksigen saja. Karena udara saat ini yang ditakutkan bukan asapnya tetapi partikel-partikel yang terkandung di dalam asapnya baik PM 2,5 atau PM 10," ujarnya.
Selain Rumah Oksigen, Dinkes Kotim juga menyiapkan layanan klinik kesehatan di Posko Karhutla BPBD Kotim. Klinik tersebut diperuntukkan bagi petugas yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama mereka yang membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan selama bertugas.
Dinkes menegaskan layanan Rumah Oksigen dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk memberikan penanganan cepat bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan di tengah kondisi kabut asap. (DEWI PATMALASARI/H)









