BORNEONEWS, Palangka Raya – Polda Kalimantan Tengah menguji pemanfaatan cairan pemadam api Shabondama asal Jepang sebagai alternatif untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada kawasan gambut.
Personel Polda Kalteng AKBP Edia Suteja mengatakan cairan tersebut dicampurkan dengan air untuk meningkatkan efektivitas pemadaman pada karakter lahan gambut yang memiliki tingkat kesulitan berbeda dibandingkan kebakaran di tanah mineral.
“Ini adalah solusi ideal bagi penanggulangan karhutla di lahan gambut. Dengan campuran cairan Shabondama, air dapat menghasilkan daya padam lebih maksimal dan cepat,” kata Edia di Palangka Raya, Kamis, 3 September 2026.
Shabondama merupakan bahan pemadam berbasis busa sabun atau liquid foam. Pengembangannya dilakukan melalui kerja sama riset antara Universitas Palangka Raya (UPR) dan Shabondama Soap Co., Ltd. asal Jepang.
Menurut Edia, penelitian terhadap penggunaan cairan tersebut telah dilakukan sejak 2019 sebagai upaya mencari alternatif bahan pemadam yang dapat membantu mengatasi kebakaran pada lahan gambut.
“Berdasarkan sejumlah penelitian dan riset akademik yang telah ditempuh sejak tahun 2019, cairan ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan metode konvensional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, karakter cairan tersebut dinilai membantu air lebih cepat meresap ke material gambut sehingga dapat mendukung proses pemadaman hingga bagian bawah permukaan.
Selain itu, Shabondama diklaim ramah lingkungan dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi kebakaran.
“Keunggulan dari formula ini adalah ramah lingkungan, cepat meresap dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi, termasuk pada lahan gambut,” katanya.
Dalam penggunaannya, Shabondama dicampurkan dengan air dalam komposisi tertentu sebelum disemprotkan ke area yang terbakar.
Berdasarkan uji coba yang dilakukan, Edia menyebut api pada titik yang ditangani dapat dipadamkan hingga tuntas.
“Alhamdulillah, dari hasil uji coba di lapangan, api pada titik yang dilakukan pemadaman bisa padam total,” ungkapnya.
Meski demikian, penggunaan cairan tersebut di Indonesia masih terbatas untuk penelitian dan pengujian. Shabondama saat ini masih diproduksi di Jepang dan belum tersedia secara massal di dalam negeri.
“Untuk saat ini hanya tersedia contoh saja. Kalau sudah produksi massal, tentu bisa digunakan lebih luas,” tutur Edia.
Ke depan, terdapat rencana mendirikan fasilitas produksi Shabondama di Indonesia. Namun, produksi massal dan pemanfaatannya secara luas masih menunggu penyelesaian proses perizinan serta penerbitan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Edia mengatakan persyaratan dan prosedur yang diperlukan telah dipenuhi, sedangkan kepastian penyelesaian standardisasi menjadi kewenangan Badan Standardisasi Nasional (BSN).
“Untuk kapan prosesnya selesai, BSN yang bisa menjawab, karena semua syarat dan prosedur sudah dipenuhi,” pungkasnya.
Pengujian Shabondama menjadi salah satu upaya pengembangan teknologi pemadaman karhutla di Kalteng, khususnya untuk menghadapi kebakaran gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan dan membutuhkan penanganan khusus.









