BORNEONEWS, Moskow – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah membahas kemungkinan mengakhiri operasi militer AS terhadap Iran bersama sejumlah penasihat seniornya.
The Wall Street Journal, dengan mengutip pejabat Amerika Serikat, melaporkan bahwa Trump mendukung gagasan untuk mengakhiri konflik tersebut. Namun, ia disebut masih meyakini tekanan ekonomi dapat digunakan untuk mendorong Iran menghentikan program nuklirnya.
Sejumlah penasihat juga disebut memperingatkan bahwa eskalasi perang dengan Iran dapat berdampak terhadap posisi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026.
Meski demikian, laporan tersebut menyebut Trump tidak menjadikan pertimbangan elektoral sebagai faktor utama dalam menentukan kebijakan terkait perang.
Di tengah pembahasan mengenai kemungkinan mengakhiri operasi militer, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan memperpanjang pengerahan personel militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Langkah itu membuka kemungkinan keberadaan militer AS di kawasan berlangsung lebih lama, bahkan hingga 2027.
Belum adanya batas waktu yang pasti terkait berakhirnya misi juga disebut memberi ruang kepada Trump untuk tetap mengambil langkah militer apabila situasi dianggap membutuhkan.
Namun, pengerahan militer dalam jangka panjang membawa konsekuensi tersendiri. Sekitar 50 ribu personel AS dilaporkan berada di kawasan bersama sejumlah besar kapal perang dan sistem pertahanan udara.
Beberapa unit pertahanan udara disebut telah ditempatkan selama 12 bulan, lebih lama dari masa tugas normal sekitar sembilan bulan.
Sejumlah satuan lain yang dialihkan dari Eropa bahkan dilaporkan telah bertugas lebih dari satu tahun.
Di sektor laut, sekitar 19 kapal Angkatan Laut AS disebut berada di Timur Tengah, termasuk dua kapal induk dan 13 kapal penghancur berpeluru kendali.
Beberapa kapal perang yang sebelumnya dikerahkan untuk mendukung operasi terhadap Iran kini juga disebut terlibat dalam blokade pelabuhan Iran.
Pada 19 Agustus 2026, Trump sebelumnya mengumumkan operasi ekonomi terhadap Iran dengan pendekatan yang disebut sebagai “isolasi pada tingkat yang belum pernah terjadi” dan mendorong sekutu AS untuk ikut memberikan tekanan.
CNN juga pernah melaporkan, dengan mengutip pejabat, bahwa Washington mulai menggeser strategi terhadap Iran menuju tekanan ekonomi secara bertahap setelah sebelumnya lebih banyak menggunakan pendekatan militer sejak akhir Februari.
Dengan perkembangan tersebut, arah kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran masih belum final. Pembahasan mengenai penghentian operasi militer berlangsung bersamaan dengan tekanan ekonomi dan tetap besarnya pengerahan pasukan AS di Timur Tengah.
ANTARA









