BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, perlahan mengubah bentang alam wilayah tersebut. Parit-parit desa, genangan air, hingga kawasan rawa-rawa yang biasanya melimpah kini berangsur mengering dan menyisakan hamparan tanah berlumpur.
Namun, di balik dampak kekeringan yang meluas, fenomena alam ini justru dimanfaatkan dan membawa kegembiraan tersendiri bagi anak-anak di kawasan Kuala Kapuas dan sekitarnya.
Surutnya debit air memicu kelompok ikan tawar untuk terkonsentrasi di titik-titik ceruk air yang tersisa. Jenis ikan lokal yang tangguh seperti papuyu (betok) dan gabus (haruan) masih mampu bertahan saat air menyusut, sehingga menjadi lebih mudah ditangkap.
Kondisi inilah yang memicu anak-anak setempat berburu ikan dengan bermodalkan peralatan sederhana, mulai dari keranjang bekas hingga tangkapan tangan.
Pemandangan riuh anak-anak dengan baju berlumpur pekat kini mudah ditemui di area persawahan maupun selokan yang mengering. Tanpa rasa canggung, mereka hilir mudik menyusuri sisa-sisa air yang mengering, menelisik setiap celah lumpur tempat ikan-ikan terperangkap. Bagi mereka, teriknya sengatan matahari dan balutan lumpur basah bukan lagi penghalang untuk menyalurkan gairah berburu.
"Biasanya haruannya terkumpul, mudah ditangkap," ucap Ibnu, salah seorang anak di Kuala Kapuas yang biasa ikut teman-temannya mencari ikan, Jumat, 4 September 2026.
Ia menceritakan bahwa kepungan lumpur membuat pergerakan ikan Haruan menjadi terbatas, sehingga anak-anak dapat dengan mudah mencegat serta menangkap keberadaan satwa air tersebut.
Dalam satu kali perburuan, kelompok anak yang terdiri dari 3 sampai 4 orang mampu mengumpulkan hasil tangkapan yang cukup berlimpah. Dalam kurun waktu beberapa jam saja, mereka biasanya berhasil mendapatkan hingga 10 ekor haruan dan papuyu dengan ukuran yang bervariasi. Hasil tangkapan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kelompok kecil tersebut.
Antusiasme anak-anak semakin membuncah ketika berhasil menangkap ikan berukuran besar yang jarang didapatkan saat musim hujan.
"Teman saya pernah dapat, ukuran segini," ucap Ibnu antusias sembari merentangkan tangannya menirukan ukuran sebesar lengan orang dewasa dengan mata berbinar penuh kebanggaan atas tangkapan temannya.
Fenomena menarik ini juga terlihat jelas di kawasan Sei Asam, Kecamatan Kapuas Hilir. Beberapa anak terlihat asyik mencari ikan Haruan di kawasan air yang sudah menyusut karena kekeringan. Celotehan riang terdengar bersahutan di sepanjang parit berlumpur; mereka sama sekali tidak memikirkan badan yang penuh lumpur, yang terpenting adalah ada ikan yang bisa didapat dan dibawa pulang.
Bagi masyarakat dewasa, musim kemarau panjang mungkin membawa kekhawatiran akan ancaman krisis air bersih dan penurunan pasokan air. Namun, melalui kacamata polos anak-anak di Kabupaten Kapuas, surutnya air justru menjelma menjadi wahana permainan dan petualangan yang menyenangkan. Di tengah keterbatasan musim kering, keceriaan masa kecil mereka tetap menyala terang di atas parit dan rawa yang mengering. (SABRIANOOR/y)









