BORNEONEWS, Sampit - Kisah induk dan anak orangutan yang diselamatkan dari kawasan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Kota Sampit kini berakhir dengan kabar menggembirakan. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, keduanya akhirnya menemukan rumah baru yang lebih aman di Suaka Margasatwa (SM) Lamandau.
Kabar tersebut dibagikan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui akun Instagram resminya, @bksda_kalteng, Jumat, 4 September 2026. Dalam unggahan reels tersebut, BKSDA memperkenalkan kedua orangutan itu dengan nama Raya dan Rayu.
BKSDA menggambarkan perjalanan keduanya sebagai kisah induk dan anak yang bertahan bersama di tengah kepungan asap. Raya, sang induk, disebut tetap menjaga Rayu yang masih kecil dan tidak pernah jauh dari pelukannya ketika kawasan tempat mereka berada terancam kebakaran.
Pada Jumat, 4 September 2026, Raya dan Rayu dinyatakan dalam kondisi sehat setelah menjalani pemeriksaan. Keduanya kemudian diantar BKSDA Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI) menuju SM Lamandau untuk dilepasliarkan.
Saat dilepas, keduanya langsung aktif bergerak di atas pohon. Raya dan Rayu kembali menjalani kehidupan di habitat yang lebih aman, bersama seperti saat pertama kali ditemukan.
"Dari Raya, kita belajar bahwa kasih seorang ibu tak mengenal keadaan. Bahkan ketika rumahnya berubah menjadi kepungan asap, yang pertama ia jaga tetaplah anaknya. Jangan biarkan api kembali merenggut rumah mereka. Perjalanan Raya dan Rayu menuju SM Lamandau bermula dari Kawasan Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur," demikian dikutip dari @bksda_kalteng.
Sebelumnya diberitakan pada Rabu, 2 September 2026, kawasan Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru, Kabupaten Kotawaringin Timur masih menyisakan bekas karhutla. Tanah menghitam, pepohonan mengering, sementara kepulan asap masih terlihat dari sejumlah titik yang menyimpan bara.
Di tengah kondisi itu, seekor orangutan terlihat bertahan di atas pohon. Lokasinya berbatasan dengan areal perkebunan sawit milik masyarakat.
Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah saat melakukan upaya rescue mengatakan, laporan pertama mengenai keberadaan orangutan diterima sekitar pukul 11.00 WIB dari anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli penanganan karhutla.
Muriansyah bersama anggota TNI kemudian mendatangi lokasi untuk memastikan laporan tersebut.
Setelah keberadaan orangutan ditemukan, BKSDA berkoordinasi dengan pimpinan di Pangkalan Bun. Tim dari BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun bersama OFI kemudian bergerak menuju Sampit untuk membantu proses penyelamatan.
Proses rescue berlangsung hingga malam hari. Awalnya petugas memperkirakan hanya ada satu orangutan yang terjebak di kawasan tersebut. Namun, ketika proses pembiusan dilakukan dan orangutan jauh dari sarangnya, tim menemukan fakta lain, ternyata sepasang induk dan anak orangutan berhasil dilakukan kegiatan rescue.
Raya sebagai induk diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sedangkan Rayu diperkirakan masih berusia sekitar satu tahun. Sang anak ditemukan tetap erat dipelukan induknya.
Kondisi lokasi membuat proses penyelamatan tidak bisa ditunda. Bara api masih ditemukan di bawah pepohonan tempat orangutan bertahan. Kondisi tersebut diduga membuat orangutan takut turun dan memilih bertahan di pohon.
Saat diselamatkan, tim dokter dari Orangutan Foundation International (OFI) dr Ichlasul Khaerul mengatakan meski terpapar asap namun kondisinya tidak terlalu parah, hal itu nampak dari orangutan yang masih aktif saat ditemukan terjebak di kawasan hutan terbakar. (DEWI PATMALASARI/y)









