BORNEONEWS, Nanga Bulik – Ratusan warga Desa Bunut, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau berkumpul di sepanjang Sungai Lamandau, Sabtu, 5 September 2026 untuk mengikuti tradisi menuba kearifan lokal masyarakat Dayak yang tetap terjaga, terutama saat musim kemarau tiba.
Tradisi ini diawali dengan mencacah kayu atau bagian tumbuhan yang mengandung zat tuba, lalu menebarkannya ke aliran sungai. Zat alami dari tuba membuat ikan mengalami kondisi mabuk sementara, sehingga lebih mudah ditangkap.
"Menuba bukan sekadar kegiatan mencari ikan. Ini soal kebersamaan dan cara kami menjaga hubungan dengan alam yang diwariskan leluhur," ujar salah seorang warga Desa Bunut.
Dari pantauan di lokasi, warga saling membantu saat ikan mulai muncul ke permukaan. Seluruh hasil tangkapan dikumpulkan dan dibagi bersama untuk kebutuhan bersama.
Bagi masyarakat Dayak pedalaman, pelaksanaan menuba di musim kemarau memiliki makna mendalam. Tradisi ini diyakini sekaligus menjadi ritual dan doa untuk memohon turunnya hujan.
Di tengah kemarau panjang, sungai dan sumber air menjadi semakin penting bagi kehidupan warga. Oleh karena itu, ritual menuba dipandang sebagai ikhtiar masyarakat memohon hujan sekaligus menjaga keseimbangan alam.
Selain nilai spiritual, kegiatan ini juga mempererat hubungan antarwarga. Berbagai usia dan kalangan masyarakat berkumpul dan bekerja sama di tepi sungai.
Tradisi ini membuktikan bahwa pengetahuan lokal masyarakat Dayak tetap hidup. Cara mengolah tuba, waktu pelaksanaan, hingga nilai-nilai yang menyertainya terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi warga Desa Bunut, Sungai Lamandau bukan sekadar tempat mencari ikan melainkan bagian dari kehidupan, budaya, dan identitas mereka.
Menuba menjadi salah satu bukti kearifan lokal yang masih bertahan di Kabupaten Lamandau, sekaligus pengingat pentingnya menjaga tradisi dan lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. (NATALIA KRISTIN/H)









