TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Tim gabungan berjibaku selama lebih dari lima jam untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda lahan masyarakat di Dusun Juwung Tubu, Desa Balawa, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Sabtu, 5 September 2026.

Kebakaran yang membakar vegetasi berupa pepohonan, semak belukar dan pohon karet tersebut menghanguskan sekitar 5 hektare lahan. Upaya pemadaman menghadapi tantangan karena lokasi kebakaran sulit dijangkau, dengan akses berupa jalan tanah yang berpasir dan sempit.

Informasi mengenai karhutla diterima petugas dari masyarakat melalui pesan WhatsApp dan kemudian diteruskan Kepala Desa Balawa. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD dan Damkar Kabupaten Barito Timur bergerak dari Posko Siaga Karhutla Tamiang Layang menuju lokasi pada pukul 11.52 WIB.

Perjalanan menuju titik kebakaran memerlukan waktu sekitar 40 menit. Kondisi jalan membuat mobilisasi kendaraan dan peralatan pemadaman tidak mudah, sehingga petugas harus menyesuaikan strategi penanganan dengan kondisi medan di lapangan.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan akses yang sulit menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.

“Akses menuju lokasi cukup sulit karena jalan tanah berpasir dan sempit. Kondisi tersebut menjadi kendala dalam mobilisasi kendaraan, tetapi tim tetap berupaya maksimal untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas,” ujar Parluhutan.


Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan sembilan personel TRC-PB BPBD Damkar Barito Timur bersama anggota Polres Barito Timur, TNI dari Kodim 1012/Buntok, personel Yonif TP 924/Uria Mapas, Perumdam Tirta Janang, Posko Terpadu Karhutla Barito Timur, unsur perangkat daerah gabungan, Camat Paju Epat, PT AEP Nusantara Plantation serta masyarakat setempat.

Dukungan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam proses pemadaman. Petugas mengerahkan satu unit tangki suplai air milik Perumdam Tirta Janang serta tangki jonder milik PT AEP Nusantara Plantation untuk memasok kebutuhan air selama operasi berlangsung.

Selain itu, tim juga menggunakan sejumlah peralatan pemadaman, mulai dari mesin alkon, selang antar dan nozzle hingga tandon air berkapasitas 1.000 liter. Mobil operasional rescue BPBD, mobil pikap dan lima unit knapsack sprayer turut dikerahkan untuk mendukung penanganan di lokasi.

Kondisi lahan yang ditumbuhi semak belukar, pepohonan dan pohon karet membuat api memiliki cukup banyak material yang mudah terbakar. Situasi tersebut diperberat karakteristik tanah di lokasi yang terdiri atas tanah gambut dan marginal sehingga petugas harus melakukan pemadaman secara hati-hati untuk memastikan api tidak kembali menjalar.

Setelah berjibaku selama beberapa jam, seluruh titik api akhirnya berhasil dipadamkan pada pukul 17.05 WIB. Sekitar 5 hektare lahan yang terdampak kebakaran berhasil ditangani dan api dinyatakan padam.

Parluhutan mengatakan petugas tidak langsung meninggalkan lokasi setelah api berhasil dipadamkan. Pengecekan kembali dilakukan untuk memastikan tidak terdapat titik api maupun bara yang masih berpotensi menyala dan memicu kebakaran susulan.

“Luas lahan yang terbakar kurang lebih 5 hektare dan seluruhnya berhasil dipadamkan. Setelah api padam, petugas kembali melakukan pengecekan untuk memastikan tidak ada titik api maupun bara yang masih berpotensi menyala,” kata Parluhutan.

Sebelum seluruh personel kembali ke instansi masing-masing, setiap unsur melakukan pengecekan personel untuk memastikan tidak ada anggota yang tertinggal di lokasi. Setelah kondisi dinyatakan aman dan seluruh personel lengkap, tim kemudian meninggalkan lokasi secara bertahap.

Menurut Parluhutan, keberhasilan pemadaman tidak terlepas dari koordinasi lintas sektor yang dilakukan sejak informasi kebakaran diterima hingga seluruh api berhasil dikendalikan.

“Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama semua unsur. Dukungan personel, peralatan, sumber air dan masyarakat sangat membantu sehingga kebakaran dapat dipadamkan dan tidak terus meluas,” pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)