TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Ancaman gangguan kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Timur mendapat perhatian dari kalangan tenaga kesehatan. Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Barito Timur turun langsung ke lapangan dengan membagikan 20.000 masker medis kepada masyarakat, Sabtu, 5 September 2026.

Aksi bakti sosial dan pengabdian masyarakat tersebut digelar serentak oleh para perawat yang tergabung dalam 12 komisariat PPNI. Masker dibagikan kepada masyarakat yang beraktivitas di luar rumah, termasuk pengguna kendaraan roda dua, roda empat serta warga yang melintas di sejumlah titik.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya preventif untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap. Selain membagikan masker, para perawat juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan saluran pernapasan selama kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Ketua DPD PPNI Barito Timur, Nelwan Adrius, mengatakan keterlibatan perawat dalam aksi tersebut merupakan bentuk pengabdian profesi sekaligus kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang terdampak kabut asap.

“Sebanyak 20.000 masker kami bagikan kepada masyarakat sebagai bentuk komitmen dan pengabdian profesi perawat. Kami ingin hadir di tengah masyarakat, terutama ketika kabut asap akibat karhutla mulai mengancam kesehatan,” kata Nelwan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele paparan asap, terutama kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak, lansia dan ibu hamil. Paparan asap dalam kondisi kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan pada saluran pernapasan.

PPNI juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, warga diminta menggunakan masker sebagai salah satu langkah perlindungan diri serta memperbanyak konsumsi air putih dan makanan bergizi.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan anak-anak, agar mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Masyarakat juga perlu memperbanyak minum air putih, mengonsumsi buah dan sayur, serta menggunakan masker ketika harus keluar rumah,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat turut diberikan pemahaman mengenai sejumlah gejala yang perlu diwaspadai setelah terpapar kabut asap. Batuk atau pilek yang tidak kunjung membaik, sesak napas, dada terasa berat hingga nyeri dada menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan.

Nelwan meminta warga segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan yang cukup berat atau menetap. Menurutnya, pencegahan sejak dini penting dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Kegiatan yang melibatkan perawat dari berbagai komisariat tersebut sekaligus menunjukkan peran tenaga kesehatan tidak hanya berada di fasilitas pelayanan kesehatan. Di tengah ancaman kabut asap, perawat turut mengambil bagian dalam memberikan perlindungan dan edukasi kesehatan secara langsung kepada masyarakat.

Nelwan mengapresiasi seluruh perawat PPNI Barito Timur yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan seluruh anggota menjadi kekuatan penting dalam menjalankan aksi pengabdian masyarakat secara serentak.

“Terima kasih kepada seluruh perawat di Kabupaten Barito Timur yang telah berpartisipasi dan bergandengan tangan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik berkat kepedulian dan kebersamaan seluruh anggota PPNI,” ucapnya.

PPNI Barito Timur berharap langkah tersebut dapat membantu masyarakat menghadapi dampak kabut asap sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama terjadi karhutla. Masyarakat juga diingatkan untuk turut mencegah pembakaran lahan yang berpotensi memperluas kebakaran dan memperburuk kualitas udara. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)