PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Polda Kalimantan Tengah bersama Korps Brimob Polri menguji penggunaan bahan Hartindo AF31 yang dipadukan dengan teknologi drone thermal untuk menangani bara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih tersimpan di bawah permukaan gambut.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan karakteristik gambut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya memastikan api di permukaan telah padam. Bara dapat bertahan di bawah tanah, menghasilkan asap dan kembali memunculkan api ketika kondisi memungkinkan.

“Lahan gambut yang terbakar walaupun sudah dipadamkan kadang kala masih ada bara api yang tersimpan di bawah. Oleh sebab itu, ini kadang menimbulkan asap yang cukup banyak dan ketika ada angin juga bisa menimbulkan api lagi,” kata Iwan di Palangka Raya, Minggu, 6 September 2026.

Untuk menemukan bara yang tidak terlihat dari permukaan, petugas memanfaatkan drone thermal guna mendeteksi titik panas.

Setelah lokasinya diketahui, campuran Hartindo AF31 dan air diarahkan pada titik tersebut, termasuk menggunakan metode injeksi agar cairan dapat menjangkau bagian bawah permukaan gambut.

“Dengan menggunakan drone thermal, kita ketahui titik-titik apinya ada di mana, kemudian kita injek dengan menggunakan bahan Hartindo AF31 yang sudah dicampur dengan air,” ujarnya.

Menurut Iwan, metode tersebut dapat membuat penggunaan air lebih terarah karena petugas tidak harus melakukan pembasahan terhadap seluruh area yang terbakar.

Hal itu dinilai penting di tengah kondisi sumber air yang mulai terbatas di sejumlah lokasi penanganan karhutla.

“Kalau kita membasahkan semua, saat ini air juga sudah mulai menipis. Kita akan lebih mudah dan lebih efisien,” katanya.

Berdasarkan hasil uji coba yang disampaikan Polda Kalteng, penggunaan Hartindo AF31 dinilai membantu mempercepat penanganan bara di bawah permukaan sekaligus mengurangi asap dari lahan gambut.

Namun, efektivitas tersebut merupakan hasil penilaian pihak kepolisian dalam penggunaan lapangan dan masih perlu dilihat berdasarkan kondisi serta karakteristik lokasi kebakaran.

Selain untuk membasahi titik bara, campuran Hartindo AF31 juga digunakan sebagai salah satu metode penyekatan rambatan api.

Caranya dengan menyemprotkan campuran tersebut pada vegetasi kering untuk membentuk area pembatas sehingga penjalaran kebakaran diharapkan dapat ditekan.

Personel Brimob juga menggunakan alat pemadam portabel berupa jet shooter atau tas ransel air untuk menjangkau titik yang membutuhkan penanganan langsung.

Iwan mengatakan bahan tersebut telah diuji dan disosialisasikan Korps Brimob bersama sejumlah polda di wilayah rawan karhutla, antara lain Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Jambi.

“Bahan ini kami akan distribusikan dan sudah didistribusikan ke beberapa wilayah untuk dipergunakan dalam rangka pembasahan,” ujarnya.

Pengujian Hartindo AF31 menjadi bagian dari upaya mencari metode yang lebih efektif untuk menghadapi kebakaran gambut. Sebelumnya, Polda Kalteng juga melakukan pengujian cairan berbusa Shabondama asal Jepang yang ditujukan untuk meningkatkan daya serap air pada gambut.

Berbagai metode tersebut dikembangkan karena kebakaran gambut memiliki tantangan berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan mineral. Bara dapat bertahan di lapisan bawah meski permukaan terlihat telah padam sehingga proses pendinginan harus dilakukan hingga benar-benar tuntas.