SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Di tengah kualitas udara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang beberapa pekan terakhir masuk kategori berbahaya berdasarkan pantauan ISPU Net, kepedulian terhadap kesehatan masyarakat terus bermunculan. Salah satunya ditunjukkan Komunitas Gowes Gabut Sampit (GGS) dengan membagikan 1.000 masker, air mineral dan vitamin kepada warga.

Aksi sosial tersebut merupakan kali kedua dilakukan GGS sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Kota Sampit yang terdampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketua Komunitas GGS M Teguh Sobirin mengatakan, dalam kegiatan tersebut pihaknya menyiapkan sekitar 1.000 masker, air mineral dan vitamin C. Bantuan dibagikan kepada warga yang melintas di kawasan Simpang Empat Jalan HM Arsyad, tepatnya di depan Kimia Farma.

Kegiatan tersebut terlaksana dari dana yang dikumpulkan melalui sumbangan anggota GGS serta masyarakat yang turut tergerak untuk membantu.

"Walaupun nilai tidak seberapa tetapi tingkat kepeduliannya untuk warga yang menjadi tujuan utama. Saling mengingatkan untuk memakai masker dan menjaga kesehatan ditengah dampak Karhutla," ujarnya, Minggu, 6 September 2026.

Aksi tersebut berangkat dari keprihatinan anggota komunitas melihat kondisi Sampit yang belakangan diselimuti asap cukup tebal. GGS tidak ingin hanya berdiam diri ketika masyarakat membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Bagi GGS, pembagian masker, air mineral dan vitamin bukan sekadar kegiatan sosial. Aksi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dampak karhutla merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian berbagai pihak.

"Mungkin yang kami berikan tidak seberapa, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa di tengah kondisi seperti ini masih ada kepedulian. Semoga apa yang kami lakukan bisa menginspirasi komunitas lain maupun masyarakat untuk saling membantu," katanya.

Selain membagikan perlengkapan untuk membantu menjaga kondisi tubuh di tengah paparan asap, GGS juga mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, terutama membuka lahan dengan cara membakar.

Teguh menegaskan dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Asap dapat terbawa angin dan menyebar ke berbagai wilayah sehingga mengganggu aktivitas dan kenyamanan masyarakat.

"Karhutla bukan hanya soal api yang membakar lahan. Ada asap yang kita hirup bersama. Karena itu, mari kita jaga lingkungan, jangan membuka lahan dengan cara membakar dan mari saling peduli dengan warga yang terdampak," katanya.

Lebih lanjut, aksi tersebut juga menjadi bagian dari semangat GGS untuk mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup sehat. Komunitas yang selama ini dikenal melalui aktivitas bersepeda itu ingin mengajak semakin banyak warga Kotim membangun kebiasaan hidup sehat melalui olahraga.

"Selain sebagai aktivitas olahraga, kondisi kenaikan harga BBM saat ini membuat sepeda menjadi alternatif kendaraan lebih hemat, praktis dan menyehatkan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)