BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengingatkan bahwa aturan tertulis tidak selalu cukup untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.
Menurut Yusril, pengambilan keputusan juga membutuhkan penilaian yang jernih, integritas, serta niat yang tulus. Hal itu disampaikannya saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru President University melalui PREUNI 2026 di Cikarang, Jawa Barat.
“Hal ini berbekal pengalaman saya di bidang hukum dan pelayanan publik,” kata Yusril seperti dikonfirmasi di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Yusril mengajak mahasiswa baru memanfaatkan kebebasan selama menempuh pendidikan tinggi dengan penuh tanggung jawab. Ia juga mendorong mahasiswa membangun kemampuan berpikir kritis dan terbuka terhadap perbedaan pandangan.
Menurutnya, perguruan tinggi menjadi fase penting karena mahasiswa memiliki ruang lebih besar untuk menentukan pilihan, mulai dari bidang yang dipelajari, buku yang dibaca hingga lingkungan untuk bertukar gagasan.
Kebebasan tersebut, kata Yusril, harus diiringi tanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
“Anda bebas mengambil keputusan, tetapi Anda juga harus bersiap untuk menjelaskan alasannya dan menerima segala konsekuensinya,” ujarnya.
Ia menekankan pendidikan tidak semata-mata menjadi sarana untuk memperoleh pekerjaan atau penghasilan. Pendidikan juga berperan membangun kemandirian serta membentuk pola pikir dan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan.
Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa diharapkan tidak hanya menghafal materi, tetapi mampu mempertanyakan dasar suatu argumentasi, menguji gagasan dan mendengarkan pandangan yang berbeda.
“Orang yang terdidik tidak akan pernah malu untuk mengatakan 'saya tidak tahu'. Menyadari bahwa kita belum tahu adalah langkah pertama menuju pengetahuan karena masalah sering kali bermula ketika seseorang merasa sudah mengetahui segalanya,” kata Yusril.
Yusril juga meminta mahasiswa tidak merasa terbebani jika belum memiliki gambaran pasti mengenai masa depan. Menurutnya, rencana, pilihan dan minat seseorang dapat berubah seiring pengalaman yang diperoleh.
Ia menilai kegagalan juga merupakan bagian dari proses kehidupan yang dapat mengarahkan seseorang ke jalan berbeda.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jangan takut untuk mengubah pandangan Anda saat menemukan argumen yang lebih baik dan jadilah pribadi yang menggunakan pengetahuan serta kebebasannya dengan penuh tanggung jawab,” tuturnya.
Dalam kegiatan yang sama, Rektor President University Handa Abidin menyampaikan tiga pesan kepada mahasiswa baru untuk menghadapi persaingan global, yakni membiasakan penggunaan bahasa Inggris, memperluas jejaring internasional serta membangun portofolio melalui magang, bisnis atau kompetisi sejak semester pertama.
Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin juga mengingatkan mahasiswa mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, secanggih apa pun teknologi, AI tidak dapat menggantikan empati, hati nurani dan kebijaksanaan manusia.
Ia mendorong mahasiswa tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang mereka pedulikan.
ANTARA









