BORNEONEWS, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat, terutama pelaku sektor pertanian, agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau yang berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengatakan puncak musim kemarau pada 2026 diperkirakan terjadi sepanjang Agustus hingga September.
"Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sedang dalam periode puncak musim kemarau. Kami perkirakan puncak musim kemarau terjadi pada periode Agustus hingga September 2026 ini," kata Fachri, sebagaimana keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang diterima di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Menurut Fachri, kondisi kemarau tahun ini perlu mendapat perhatian lebih karena dipengaruhi fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. Fenomena iklim global tersebut diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027.
Perpaduan antara puncak musim kemarau dan El Nino berpotensi menyebabkan curah hujan turun secara signifikan serta memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap ketersediaan air bersih, produktivitas sektor pertanian, hingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, BMKG mengimbau pelaku pertanian untuk memperhatikan perkembangan informasi iklim dalam menentukan strategi pengelolaan lahan dan ketersediaan air selama periode kemarau.
Direktorat Klimatologi BMKG memperkirakan musim peralihan dari kemarau menuju musim hujan tidak terjadi secara serentak. Masa transisi diprediksi berlangsung bertahap mulai pertengahan Oktober hingga akhir November 2026.
BMKG juga akan memperkuat pemantauan terhadap dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi iklim secara berkala kepada kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah.
Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun langkah mitigasi, khususnya terkait pengelolaan ketersediaan air, sektor pertanian, serta upaya pencegahan karhutla.
Dengan kondisi iklim yang berpotensi ekstrem, BMKG meminta seluruh pihak menggunakan informasi cuaca dan iklim sebagai bagian dari langkah antisipasi menghadapi dampak puncak musim kemarau.
ANTARA









