JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) menjadi salah satu upaya Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan anak-anak di berbagai daerah mendapatkan akses ke sekolah berkualitas.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan masih terdapat kesenjangan mutu pendidikan antardaerah.

Berdasarkan identifikasi Kemendikdasmen, hanya terdapat 263 sekolah dengan kriteria dan standar yang dinilai baik dari ribuan kecamatan di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan belum semua wilayah memiliki akses terhadap satuan pendidikan tingkat SMP dan SMA dengan mutu yang memadai.

“Sekolah Nasional Terintegrasi lahir salah satunya untuk menjawab kesenjangan mutu pendidikan. Sekolah yang memiliki kriteria di 7.228 kecamatan itu hanya ada 263. Jadi artinya hanya empat persen kecamatan di seluruh Indonesia itu memiliki SMP dan SMA yang berkualitas baik,” kata Gogot dalam tayangan siniar bertajuk Sekolah Nasional Terintegrasi, Pusat Mutu Pendidikan Untuk Semua di Jakarta, Senin, 7 September 2026.

Menurut Gogot, program tersebut diarahkan untuk memastikan setiap anak yang lahir dan tumbuh di Indonesia memiliki kesempatan memperoleh pendidikan di sekolah dengan kriteria dan standar yang baik tanpa harus meninggalkan daerah asal.

Ia menjelaskan, penentuan sekolah dengan kriteria tersebut didasarkan pada dua indikator. Pertama, sekolah memiliki akreditasi A. Kedua, sedikitnya 90 persen peserta didiknya memperoleh skor literasi dan numerasi di atas rata-rata nasional.

Dengan kondisi saat ini, tidak semua anak dapat menikmati pendidikan di sekolah berkualitas jika harus bergantung pada ketersediaan sekolah unggulan di wilayah tempat tinggalnya.

Karena itu, Presiden Prabowo memberikan arahan kepada Kemendikdasmen agar anak-anak di setiap daerah memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di satuan pendidikan terbaik tanpa harus berpindah provinsi atau bahkan pulau.

Selain memperluas akses pendidikan berkualitas, SNT juga dirancang agar peserta didik tetap tumbuh dengan membawa nilai dan kearifan lokal daerah masing-masing.

Gogot mengatakan pengembangan SNT menggabungkan kurikulum nasional dengan pendekatan multikultural, perspektif global, serta pembelajaran kontekstual.

“Kami ingin tahu, kan selama ini anak-anak yang bagus di wilayah di daerah yang terpencil atau luar terjauh itu dibawa ke pusat kota, ya, bisa di Jakarta, bisa di Surabaya, bisa di Bandung, Bogor. Nah, kami ingin tahu kalau anak-anak itu lahir, tumbuh, besar dengan ilmu yang luar biasa yang kami siapkan di tempat mereka, nah local wisdom-nya akan terbawa,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan tersebut penting agar peningkatan kualitas pendidikan tidak membuat peserta didik tercerabut dari lingkungan dan budaya asalnya.

Dengan demikian, SNT diharapkan tidak hanya menjadi sarana pemerataan akses pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu lulusan sekaligus mempertahankan keberagaman dan kearifan lokal di berbagai daerah Indonesia.

ANTARA