TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Lahan gambut yang cukup tebal menjadi tantangan utama tim gabungan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Juru Banu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Senin, 7 September 2026.

Kebakaran yang melanda kawasan tanah masyarakat dan areal PT Adaro Land (PBPH) tersebut diperkirakan telah membakar sekitar 5 hektare lahan. Area yang terbakar didominasi semak belukar, pakis, pepohonan, serta lapisan gambut yang cukup tebal sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan secara intensif dan berkelanjutan.

Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD dan Damkar Kabupaten Barito Timur bersama unsur terkait langsung bergerak setelah menerima informasi dari Kepala Desa Juru Banu melalui WhatsApp. Tim berangkat dari Posko Siaga Karhutla Tamiang Layang sekitar pukul 13.35 WIB dan tiba di lokasi setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 20 menit.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan kondisi medan menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan.

“Kendala di lapangan adalah banyaknya semak belukar, pepohonan, serta gambut yang sangat tebal. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman harus dilakukan secara hati-hati dan terus-menerus,” tuturnya.

Sedikitnya delapan personel TRC-PB BPBD Barito Timur dikerahkan dalam operasi tersebut. Mereka bekerja bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas Kecamatan Paju Epat, Security A5 PT Adaro, Emergency Response Team (ERT) PT Adaro Indonesia, karyawan perusahaan, Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Juru Banu, serta unsur PT Adaro Land.

Kekuatan personel juga didukung sejumlah sarana pemadaman. TRC BPBD Barito Timur mengerahkan dua mesin jinjing, dua nozzle, 12 selang antar, satu unit mobil pikap, tandon air berkapasitas 1.000 liter, serta mobil operasional rescue.

Sementara itu, PT Adaro Indonesia menurunkan dua unit mobil tangki pemadam berkapasitas masing-masing 10.000 liter dan satu unit tangki suplai dengan kapasitas 10.000 liter. Dukungan tersebut digunakan untuk menjaga ketersediaan air selama proses pemadaman berlangsung.

Hingga operasi dihentikan sekitar pukul 19.33 WIB, tim gabungan berhasil melakukan pemadaman terhadap sekitar 2 hektare area yang terbakar. Namun, penanganan belum dapat dinyatakan selesai karena api masih belum sepenuhnya padam.

Parluhutan menjelaskan, kondisi gambut menjadi alasan utama tim harus tetap mewaspadai kemungkinan munculnya kembali titik api. Bara yang berada di lapisan bawah permukaan dapat kembali menyala apabila tidak benar-benar didinginkan dan dipastikan aman.

“Untuk saat ini api belum sepenuhnya padam. Karena lahannya gambut dan cukup tebal, kami harus memastikan titik-titik api benar-benar aman dan tidak kembali menyala,” ujar Parluhutan.

Selain gambut, vegetasi berupa semak belukar, pakis dan pepohonan yang cukup rapat juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam penanganan. Material tersebut mudah terbakar dan berpotensi membantu penjalaran api apabila kondisi lapangan kembali mengering dan angin bertiup cukup kencang.

Karena itu, koordinasi antarpersonel menjadi bagian penting dalam operasi pemadaman. Setiap unsur harus bekerja secara terpadu untuk memastikan api dapat dikendalikan sekaligus mengantisipasi munculnya titik api baru di sekitar lokasi kebakaran.

Setelah operasi pemadaman dihentikan, seluruh unsur yang terlibat terlebih dahulu melakukan pengecekan personel. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh anggota dalam kondisi aman dan tidak ada personel yang tertinggal di lokasi. Setelah seluruh personel dinyatakan lengkap, tim gabungan kemudian kembali ke satuan masing-masing.

BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah dengan tutupan vegetasi yang mudah terbakar dan kawasan yang memiliki karakteristik lahan gambut.

Penanganan secara cepat dan terpadu dinilai penting untuk mencegah kebakaran berkembang semakin luas. Terlebih pada lahan gambut, proses pemadaman tidak hanya membutuhkan upaya memutus kobaran api di permukaan, tetapi juga memastikan tidak ada bara yang masih bertahan di bawah permukaan tanah. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)