JAKARTA –

BORNEONEWS, Bandung – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah kembali memasuki fase Strombolian yang sesuai dengan karakter normal gunung api tersebut.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan letusan yang terjadi saat ini memiliki amplitudo relatif kecil dengan durasi singkat, yakni hanya beberapa detik.

“Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian. Erupsi terjadi dengan amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan durasi letusannya hanya beberapa detik,” kata Lana di Bandung, Selasa, 8 September 2026.

Berdasarkan pemantauan seismik dari pos pengamatan gunung api, aktivitas getaran Gunung Anak Krakatau mulai menurun secara konsisten sejak 5 September 2026.

Hingga pemantauan 8 September, tercatat delapan kali letusan kecil dengan durasi sekitar 10 hingga 15 detik. Sebaran material erupsi dan abu vulkanik juga terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah.

Lana memastikan kondisi saat ini berbeda dengan erupsi Anak Krakatau pada Desember 2018 yang memicu tsunami setelah sebagian tubuh gunung runtuh ke laut.

Menurut dia, hasil analisis data deformasi tidak menunjukkan adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi menyebabkan longsoran lereng ke perairan.

Membaiknya kondisi atmosfer setelah berkurangnya sebaran kolom abu juga berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Sejumlah bandara yang sebelumnya terdampak abu vulkanik telah kembali beroperasi setelah aspek keselamatan penerbangan terpenuhi.

Aktivitas nelayan di pesisir Selat Sunda juga telah dapat berjalan normal. Namun, nelayan tetap diimbau menggunakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik tipis.

Meski aktivitas vulkanik mulai menurun, Badan Geologi masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

“Meskipun aktivitas vulkanik mulai melandai sejak 5 September, status tetap Siaga (Level III) dengan radius aman tiga kilometer,” kata Lana.

ANTARA