BORNEONEWS, Sampit - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat 2.656 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli yang tercatat sebanyak 2.119 kasus.
Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengatakan, peningkatan kasus ISPA berdasarkan data dari puskesmas memang terjadi, namun tidak tergolong signifikan.
"Kalau ISPA data yang saya dapat itu sebenarnya stabil saja. Cuman ISPA ini penyakit ringan. Jadi penyakit ringan, bisa jadi orang sakit sedikit, membeli obat di apotik sehingga sembuh sendiri. ISPA itu penyebabnya virus, dengan istirahat, banyak minum, makan, minum vitamin, insyaallah sembuh," kata Umar Kaderi, Selasa, 8 September 2026.
Berdasarkan data Dinkes Kotim, kasus ISPA pada Januari 2026 sebanyak 2.749 kasus, Februari 2.031 kasus, Maret 1.495 kasus, April 2.132 kasus, Mei 1.751 kasus, Juni 1.922 kasus, Juli 2.119 kasus dan Agustus 2.656 kasus.
Dengan demikian, total kasus ISPA yang tercatat di Kotim selama Januari hingga Agustus 2026 mencapai 16.855 kasus.
Umar menjelaskan, data yang tercatat di puskesmas belum tentu menggambarkan seluruh kasus ISPA di masyarakat. Sebagian warga yang mengalami gejala ringan kemungkinan memilih membeli obat secara mandiri di apotek sehingga tidak tercatat sebagai pasien puskesmas.
"Kalau data dari Puskesmas kita itu sebenarnya naiknya tidak signifikan. Tapi Memang ada peningkatan, cuman tidak signifikan. Jadi yang sakit itu kemungkinan besar minum obat sendiri, membeli obat sendiri, tidak berobat ke puskesmas," jelasnya.
Menurutnya, kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Kondisi tubuh yang menurun kemudian dapat membuat seseorang lebih mudah terserang virus.
"Jadi ISPA karena kabut asap, habis itu ada iritasi sedikit sehingga virus dengan kondisi tubuh kita kurang bagus, virus bisa masuk," ujarnya.
Dinkes Kotim mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara sedang pekat akibat kabut asap. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel debu dan asap.
"Jadi kita menghimbau kepada masyarakat beraktivitas di luar rumah pada saat cuaca sudah mulai bagus. Jika cuaca pekat kita harus pakai masker, kemudian kita usahakan banyak aktivitas di dalam ruangan. Tapi kalau misalnya kita ke luar ruangan, tentunya kita harus pakai masker," tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, terutama yang mengandung protein dan vitamin. Menurutnya, daya tahan tubuh yang baik menjadi salah satu upaya pencegahan dari dalam.
Di tengah kondisi karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kotim, masyarakat diminta tetap mewaspadai dampaknya terhadap kesehatan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia serta masyarakat dengan penyakit tertentu perlu mendapat perhatian lebih.
"Memang karhutla ini masih belum reda dan itu akan mengganggu aktivitas juga kesehatan kita. Terutama pada anak-anak, lansia, dan orang-orang yang terindikasi penyakit-penyakit tertentu misalnya ada jantung, ada ginjal dan itu akan memperparah kondisinya manakala sudah keluar rumah," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)



