BORNEONEWS, Palangka Raya - Pengelolaan tata air menjadi salah satu kunci utama mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Kepala Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengelolaan Lahan Gambut Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Adi Jaya, mengatakan gambut dalam kondisi alami sebenarnya tidak mudah terbakar karena memiliki kandungan air yang tinggi.
Namun, kondisi tersebut dapat berubah ketika tata air terganggu. Drainase, kanal, pembukaan lahan hingga kemarau panjang dapat menyebabkan muka air tanah turun dan membuat lapisan gambut bagian atas mengering.
"Gambut pada kondisi alaminya sebenarnya tidak mudah terbakar karena terbentuk dalam kondisi jenuh air, tetapi ketika tata air terganggu dan muka air tanah turun, lapisan gambut bagian atas kehilangan banyak air dan bahan organik yang sebelumnya basah berubah menjadi bahan bakar," kata Adi di Palangka Raya, Selasa, 8 September 2026.
Ia mencontohkan kondisi di kawasan Sebangau pada 2019. Saat itu, kemarau panjang menyebabkan muka air tanah turun hingga sekitar 1,5 meter. Sementara di kawasan yang telah dibuka untuk pertanian, penurunannya bahkan mencapai 2,5 meter.
Menurut Adi, gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik selama ratusan hingga ribuan tahun. Ketika mengering, bukan hanya material di permukaan seperti daun dan ranting yang dapat terbakar, tetapi lapisan tanah gambut itu sendiri juga menjadi bahan bakar.
"Gambut terdiri atas akumulasi bahan organik selama ratusan hingga ribuan tahun, sehingga ketika mengering bukan hanya daun dan ranting di permukaan yang dapat terbakar, tetapi tanah gambut itu sendiri," ujarnya.
Api Gambut Bisa Membara di Bawah Tanah
Adi menjelaskan, karakter kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran di tanah mineral. Api tidak hanya menyebar di permukaan, tetapi dapat terus membara di dalam tanah melalui proses smouldering combustion.
Pembakaran bawah permukaan ini dapat bergerak perlahan ke samping maupun ke bawah mengikuti lapisan gambut yang kering. Api juga dapat menjalar melalui akar, pohon dan kayu lapuk yang berada di dalam tanah.
Kondisi tersebut membuat lokasi yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar aman. Sumber panas di bawah permukaan masih dapat memicu munculnya asap atau api kembali.
Kesulitan pemadaman semakin besar ketika gambut mengalami kekeringan ekstrem. Dalam kondisi alami, gambut memiliki kemampuan menyimpan air yang tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar sembilan kali berat tanahnya.
Namun, ketika mengalami kekeringan ekstrem akibat kebakaran, gambut dapat menjadi hidrofobia atau sulit menerima air. Akibatnya, air yang disemprotkan dalam jumlah banyak belum tentu dapat meresap hingga lapisan dalam tempat sumber panas berada.
"Pada kebakaran gambut, pekerjaan belum selesai ketika nyala api hilang, karena pendinginan atau mop-up harus dilakukan sampai sumber panas di bawah permukaan benar-benar hilang," jelas Adi.
Karena itu, proses pemadaman membutuhkan lebih banyak air, waktu pendinginan dan pemeriksaan ulang dibandingkan kebakaran di tanah mineral.
UPR juga melakukan sejumlah upaya, termasuk membuat sekat air atau fire break untuk membantu mencegah api meluas. Pemantauan tetap dilakukan karena keberadaan sekat tidak serta-merta menjamin kawasan terbebas dari ancaman kebakaran.
Kemarau Bukan Sumber Api
Adi mengatakan kemarau dan fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko serta memperparah karhutla, tetapi keduanya bukan merupakan sumber penyalaan.
El Nino dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering. Kondisi ini membuat gambut kehilangan air, vegetasi mengering dan bahan bakar menjadi lebih mudah terbakar.
Menurutnya, kondisi kering tersebut membuat kebakaran lebih mudah berkembang ketika terdapat sumber api. Artinya, tetap diperlukan sumber penyalaan untuk memulai proses pembakaran.
Adi juga meluruskan anggapan bahwa daun-daun kering dapat menghasilkan api hanya karena bergesekan akibat tertiup angin.
"Daun kering memang sangat penting dalam proses kebakaran, tetapi perannya adalah sebagai bahan bakar yang mudah terbakar, bukan sebagai sumber api itu sendiri. Dalam konteks kebakaran gambut di Indonesia, sebagian besar sumber penyalaan berkaitan dengan aktivitas manusia," ungkapnya.
Ia menyebut sumber penyalaan alami dapat berasal dari petir. Namun, berbagai kajian mengenai kebakaran gambut menunjukkan sumber penyalaan yang berkaitan dengan aktivitas manusia memiliki peran dominan.
Pembasahan Gambut Jadi Upaya Pencegahan
Untuk menekan risiko karhutla, Adi menekankan pentingnya menjaga gambut tetap basah sekaligus mencegah munculnya sumber api.
"Pencegahan yang paling efektif adalah mencegah gambut menjadi kering dan menghentikan sumber penyalaan, melalui pembasahan kembali, pengelolaan tata air, sekat kanal, pemantauan muka air tanah, pemulihan vegetasi, serta mencegah pembukaan dan pengelolaan lahan dengan api," katanya.
Selain menjaga tata air, material kering yang tersisa setelah kebakaran juga perlu diperhatikan. Pohon tumbang, kayu dan daun yang menjadi biomassa kering dapat menjadi bahan bakar ketika terjadi kebakaran berikutnya.
"Biomassa kering, baik pohon maupun daun, sangat berpotensi menjadi masalah lagi dengan terjadinya kebakaran dan bahkan memberikan efek yang lebih besar dalam hal nyala api," demikian Adi.









