JAKARTA –

BORNEONEWS, Tokyo – Pemerintah Kota Nagoya, Jepang, menetapkan langkah bantuan darurat di seluruh wilayah kota setelah hujan ekstrem mengguyur kawasan Tokai dan memicu gangguan besar pada aktivitas masyarakat.

Hujan sangat lebat terjadi akibat terbentuknya pita hujan linier atau senjo kosuitai pada Selasa, 8 September 2026, dengan curah hujan yang disebut mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di kawasan tersebut.

Fenomena itu terbentuk ketika barisan awan cumulonimbus berkembang secara berulang di jalur yang sama, sehingga menyebabkan hujan deras berlangsung dalam waktu lama di wilayah yang relatif tetap.

Dampaknya, sistem transportasi di Nagoya lumpuh dan membuat banyak pekerja serta pelajar tidak dapat kembali ke rumah.

Sejumlah warga bahkan terpaksa menginap di berbagai lokasi di sekitar kota karena perjalanan mereka terhenti.

Hingga Selasa pukul 19.00 waktu setempat, sekitar 1.600 orang tercatat mengungsi ke pusat-pusat evakuasi yang disediakan pemerintah.

Sementara itu, sedikitnya 200 kendaraan mengalami kerusakan akibat hujan hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 04.00 waktu setempat.

Situasi di sekitar Stasiun Nagoya juga masih dipenuhi para komuter yang kelelahan setelah tidak dapat pulang akibat terganggunya layanan transportasi.

Salah seorang perempuan berusia 23 tahun asal Kasugai bahkan dilaporkan harus bermalam di tempat karaoke dekat stasiun bersama temannya.

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan bahwa ancaman cuaca ekstrem belum berakhir.

Hujan lebat diperkirakan masih mengguyur wilayah yang luas di Jepang hingga Kamis, 10 September 2026.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tanah longsor, banjir serta kenaikan permukaan sungai.

Risiko bencana disebut semakin tinggi karena kondisi tanah di sejumlah daerah, khususnya kawasan Tokai, telah menjadi labil akibat hujan deras sebelumnya.

Menurut Badan Meteorologi Jepang, sebuah front cuaca aktif membentang di sepanjang pantai Pasifik bagian timur dan barat Jepang.

Pada saat bersamaan, depresi tropis yang terbentuk dari Topan Krovanh bergerak ke arah utara dari wilayah selatan Pulau Shikoku.

Aliran udara hangat dan lembap menuju front tersebut memperbesar potensi terbentuknya awan hujan.

Front cuaca diperkirakan sedikit bergeser ke selatan dan tetap berada di kawasan selatan Pulau Honshu hingga Kamis.

Badan Meteorologi Jepang juga memperingatkan kemungkinan terbentuknya kembali pita hujan linier di Tokai serta sejumlah wilayah lainnya.

Dalam periode 24 jam hingga Kamis pukul 06.00 waktu setempat, curah hujan di Tokai dan Kinki diperkirakan dapat mencapai 200 milimeter.

Wilayah Shikoku diprediksi menerima hujan hingga 150 milimeter.

Sementara Kanto-Koshin, termasuk Tokyo, serta Hokuriku berpotensi diguyur hujan hingga 120 milimeter.

Untuk wilayah Tohoku di timur laut Jepang, curah hujan diperkirakan mencapai 80 milimeter.

Pemerintah dan otoritas cuaca meminta masyarakat terus mengikuti informasi terbaru serta segera melakukan evakuasi apabila kondisi di wilayah tempat tinggal mulai membahayakan.

Sumber: Kyodo/ANTARA