BORNEONEWS, Washington – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Pasukan AS menghancurkan lima kapal tanker pengangkut minyak mentah Iran setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut dua kali mencoba menyerang kapal perang Angkatan Laut Amerika menggunakan rudal balistik.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan kapal perang AS berhasil menghindari serangan tersebut dan tetap menjalankan patroli di kawasan.
Tidak ada personel Amerika Serikat yang dilaporkan terluka dalam insiden itu.
“Kapal perang AS berhasil menghindari upaya serangan Iran dan terus berpatroli di perairan kawasan. Tidak ada personel Amerika yang terluka,” demikian pernyataan CENTCOM.
Sebagai respons atas serangan tersebut, pasukan Amerika kemudian melancarkan operasi terhadap sejumlah kapal tanker minyak Iran.
Salah satu kapal yang menjadi sasaran adalah M/T Riesco. CENTCOM menyebut kapal tanker tersebut tenggelam di Teluk Oman setelah dihancurkan pasukan AS.
Rekaman yang dirilis CENTCOM memperlihatkan kapal tersebut tenggelam. M/T Riesco disebut dihancurkan pada 8 September 2026.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sebelumnya memperingatkan Iran mengenai konsekuensi apabila serangan terhadap kapal perang AS terus dilakukan.
“Iran terus berupaya menyerang kapal perang AS. Setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker. Dan saya kira Anda akan melihat hal itu lagi hari ini,” kata Rubio saat berbicara kepada wartawan dalam kunjungannya ke Kolombia.
Dari pihak Iran, kantor berita Tasnim melaporkan sebuah kapal tanker terkena serangan di dekat kawasan Pelabuhan Kharg Island.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut dan seluruh awak kapal dilaporkan berhasil dievakuasi.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan dua kapal tanker lainnya mengalami serangan di sekitar Pelabuhan Jask.
Para awak kapal disebut meninggalkan kapal menggunakan sekoci dan berhasil mencapai daratan.
Rangkaian serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran terkait Selat Hormuz.
Kawasan itu menjadi salah satu jalur strategis pelayaran dan distribusi energi dunia sehingga perkembangan keamanan di wilayah tersebut mendapat perhatian internasional.
Ketegangan terbaru terjadi meskipun Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni 2026.
Kesepakatan itu antara lain memuat rencana pembukaan kembali jalur strategis tersebut sebagai langkah awal menuju pembicaraan perdamaian yang lebih luas.
Namun, saling serang antara kedua pihak kembali meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan.
Sumber: Anadolu/ANTARA









