BORNEONEWS, Jakarta – Kementerian Keuangan menilai tantangan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bukan hanya berkaitan dengan besarnya investasi yang masuk, tetapi juga sejauh mana investasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad mengatakan, investasi tetap menjadi salah satu motor penting pertumbuhan ekonomi. Namun, peningkatan volume investasi saja dinilai belum cukup untuk menopang pertumbuhan tinggi dalam jangka panjang.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat efisiensi investasi agar modal yang masuk dapat menghasilkan dampak lebih besar terhadap perekonomian.
Pandangan tersebut disampaikan Noor dalam diskusi yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas bersama Asian Development Bank Institute atau ADBI di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan struktural yang perlu dibenahi untuk meningkatkan produktivitas nasional.
Persoalan itu mencakup kesenjangan keterampilan tenaga kerja, tingginya sektor informal, akses pembiayaan yang masih relatif terbatas dan mahal, hingga kepastian regulasi terkait kemudahan berusaha serta pasar tenaga kerja.
Berbagai persoalan tersebut dinilai saling berkaitan dan dapat memengaruhi daya saing ekonomi.
Kesenjangan keterampilan misalnya, dapat menekan produktivitas perusahaan. Kondisi tersebut kemudian berpotensi membatasi peningkatan upah pekerja formal sekaligus mempersempit basis penerimaan pajak.
Di sisi lain, pembiayaan yang belum optimal juga dapat menghambat perusahaan dalam memperbesar kapasitas usaha dan meningkatkan produktivitas.
Kementerian Keuangan turut mendorong penguatan kembali sektor manufaktur sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi.
“Manufaktur perlu kembali memperoleh momentum sebagai mesin produktivitas, ekspor, pembelajaran teknologi dan penciptaan lapangan kerja formal,” kata Noor.
Menurutnya, pengembangan manufaktur tidak cukup hanya meningkatkan aktivitas pengolahan.
Sektor tersebut juga perlu diarahkan untuk menciptakan nilai tambah domestik yang lebih besar, memperkuat kemampuan teknologi nasional serta memperluas pasar ekspor.
Kebijakan pada sektor prioritas juga diharapkan menghasilkan capaian yang dapat diukur.
Setidaknya terdapat tiga sasaran utama, yakni peningkatan investasi dan ekspor, pengurangan ketergantungan terhadap impor strategis melalui penguatan kemampuan produksi dalam negeri, serta penciptaan lebih banyak lapangan kerja yang layak.
Noor juga menekankan pentingnya menjaga disiplin fiskal sembari memperbaiki kualitas penerimaan dan belanja negara.
Selain itu, pemerintah perlu mempertahankan kesinambungan kebijakan internasional serta terus meningkatkan total factor productivity atau produktivitas faktor total.
Efisiensi investasi juga menjadi bagian penting dalam agenda tersebut.
Dengan demikian, orientasi kebijakan ekonomi tidak hanya mengejar besarnya modal yang masuk, tetapi memastikan setiap investasi mampu menghasilkan produktivitas, nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.
ANTARA









