PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Maraknya unggahan di media sosial yang menyerang ranah pribadi Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran beserta keluarga mendapat sorotan tajam dari tokoh masyarakat adat Kalteng, Yansen A. Binti.

Ketua Umum DPN Gerdayak Indonesia sekaligus Ketua HIPAKAD Kalteng ini menegaskan bahwa kritik boleh disampaikan, tetapi serangan personal disertai ejekan dan penghinaan sangat tidak etis dan bertentangan dengan kearifan lokal.

“Apabila bersifat kritik, saya kira wajar. Kita sebagai masyarakat bisa memberikan penilaian kepada pemimpin. Tetapi kalau sudah menyerang pribadi, apalagi dibumbui ejekan dan penghinaan, itu tidak enak kita dengar,” ujar Yansen pada Kamis 10 September 2026.

Ia memahami bahwa kontrol sosial adalah bagian dari demokrasi, namun batas kesopanan dan penghormatan terhadap sesama tidak boleh dilanggar. Yansen menegaskan bahwa masyarakat Dayak menjunjung tinggi etika, moral, dan kearifan lokal.

Di Tanah Dayak, falsafah Huma Betang serta prinsip Belum Bahadat mengajarkan kehidupan beradat dan santun, di mana setiap orang wajib saling menghormati tanpa memandang latar belakang.

“Di Tanah Dayak kita punya prinsip Belum Bahadat dan Falsafah Huma Betang. Kita menghormati siapa saja, bahkan pendatang pun kita hormati, apalagi sesama. Boleh berpendapat, tetapi tidak boleh menyerang pribadi. Itu haram dilakukan di Tanah Dayak,” tegasnya.

Prinsip ini, menurut Yansen, berlaku bagi siapa pun yang tinggal dan beraktivitas di Kalimantan Tengah.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh dinamika politik yang mulai memanas menjelang pemilu.

Kegaduhan di media sosial dinilai justru memperkeruh suasana di tengah masyarakat yang saat ini sedang berjuang menghadapi bencana karhutla dan kabut asap.

“Saya paham mesin politik untuk tahun nanti sudah mulai warming up, sehingga ada sasaran-sasaran politis. Tapi mari kita sudahi, tidak usah diperpanjang. Jangan menambah ‘asap’ kegaduhan dengan hujatan dan penghinaan,” imbaunya.

Mengakhiri pernyataannya, Yansen mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi warga negara yang cerdas, bermoral, serta terus menjaga persatuan dan kerukunan.

“Mari kita menjadi warga negara yang cerdas dan bermoral, memiliki etika serta sopan santun. Kita punya pertanggungjawaban kepada masyarakat dan Tuhan. Mari saling menghormati suku dan agama, serta tetap bersatu sebagai anak bangsa,” pungkasnya. (PATHUR/R)