PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Serangga penyerbuk kelapa sawit asal Tanzania didatangkan ke Indonesia untuk membantu mengatasi persoalan penyerbukan dan meningkatkan pembentukan buah pada tanaman kelapa sawit.

Hal tersebut disampaikan Head of Research (HOR) Sulung Research Station Dr Fizrul Indra Lubis usai kegiatan pelepasan tiga spesies serangga penyerbuk asal Tanzania di Karang Taba Estate, kawasan perkebunan PT Sawit Mandiri Lestari, Kabupaten Lamandau, Kamis, 10 September 2026.

Dr Fizrul Indra Lubis menjelaskan, Indonesia sebenarnya telah memiliki serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus yang diintroduksi dari Kamerun sekitar 1983. Namun, setelah berkembang selama beberapa dekade, muncul persoalan terkait kualitas tandan dan penyerbukan.

"Akhirnya atas prakarsa GAPKI, PT RPN dan beberapa perusahaan konsorsium termasuk PT SSMS Tbk membuat terobosan untuk mendatangkan serangga penyerbuk asal Tanzania," jelas Dr. Dr Fizrul Indra Lubis.

Menurut Dr Fizrul Indra Lubis, dari eksplorasi Yang dilakukan RnD GAPKI, PT RPN serta adanya peran aktif dari Konsosrium PIPPSI di Tanzania, dipilih tiga spesies untuk dikembangkan di Indonesia, yakni Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius plagiatus, dan Elaeidobius subvitatus.

Dr Fizrul Indra Lubis mengatakan, ketiga spesies tersebut diketahui memiliki populasi tinggi di Tanzania dan E. Subvittatus yang paling banyak ditemukan di Tanzania.

Menurut Dr Fizrul Indra Lubis, keberadaan serangga penyerbuk sangat berkaitan dengan keberhasilan proses pembentukan buah kelapa sawit. Penyerbukan yang berjalan baik diharapkan dapat mendukung pembentukan buah dan pada akhirnya berkontribusi terhadap produktivitas tandan buah segar (TBS).

Namun, ia menegaskan belum dapat memastikan salah satu spesies sebagai yang paling efektif di Indonesia karena ketiganya masih harus melalui proses adaptasi terhadap kondisi lingkungan setempat.

"Kalau dibilang efektivitas mana yang paling bagus di Tanzania, semuanya tidak bisa dibedakan mana yang paling bagus. Tetapi yang banyak ditemukan di bunga jantan yang membawa polen itu ketiganya," jelas Dr Fizrul Indra Lubis.

Karena itu, lanjut Dr Fizrul Indra Lubis, pengembangan serangga tersebut dilakukan secara bertahap sebelum dilepas di perkebunan. Upaya tersebut juga diharapkan dapat memperkuat keberhasilan penyerbukan secara alami dan mengurangi kebutuhan terhadap intervensi penyerbukan manual yang membutuhkan tenaga dan biaya.

"Sebelumnya, implementasi awal introduksi tiga spesies penyerbuk asal Tanzania di Indonesia juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional dan stabilitas produksi kelapa sawit," jelas Dr Fizrul Indra Lubis. (WAHYU KRIDA/j)