PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Serangga penyerbuk kelapa sawit asal Tanzania yang dilepas di Karang Taba Estate, Kabupaten Lamandau, telah melalui proses karantina dan pengawasan sebelum diperbolehkan dikembangkan serta dilepas di perkebunan.

Head of Research (HoR) Sulung Research Station Dr Fizrul Indra Lubis,  usai kegiatan pelepasan tiga spesies serangga penyerbuk kelapa sawit asal Tanzania di Karang Taba Estate, kawasan perkebunan PT Sawit Mandiri Lestari, Kabupaten Lamandau, Kamis, 10 September 2026 mengatakan serangga tersebut tidak langsung didatangkan dan dilepas di kebun. Setelah tiba di Indonesia, serangga menjalani proses karantina dan pengawasan sebelum dikembangkan lebih lanjut.

"Setahun sebelumnya Elaeidobius itu sudah datang, kemudian dikarantina, diawasi oleh Dinas Karantina dan beberapa bagian kementerian," jelas Dr Fizrul Indra Lubis.

Dr Fizrul Indra Lubis mengatakan, pengembangan awal dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Sumatera Utara. Setelah melalui proses tersebut, serangga penyerbuk asal Tanzania kemudian menjalani pelepasan perdana di Sumatera Utara pada Mei 2026.

Dalam program tersebut, tiga spesies yakni Elaeidobius kamerunicus, E. plagiatus, dan E. subvitatus dibagikan kepada 23 perusahaan pendukung. Masing-masing perusahaan disebut menerima rata-rata sekitar 7.000 serangga untuk dikembangkan.

Untuk pengembangan di PT SSMS Tbk, serangga tersebut tiba sekitar Juni 2026. Pihaknya sengaja tidak langsung melakukan pelepasan karena terlebih dahulu mempersiapkan areal perkebunan.

"Kita nggak mau buru-buru karena kita mau mempersiapkan areal kita untuk menerimanya dengan baik," jelas Dr Fizrul Indra Lubis.

Serangga kemudian dikembangkan hingga September 2026 sebelum akhirnya dilepas di Karang Taba Estate.

Menurut Dr Fizrul Indra Lubis, proses pengujian dan karantina menjadi bagian penting karena serangga yang didatangkan dari luar Indonesia harus dipastikan layak untuk dilepas dan dikembangkan.

Penilaian tidak hanya menyangkut kemampuan hidup dan berkembang, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan serta kemungkinan dampaknya terhadap organisme yang telah ada di Indonesia.

Proses introduksi serangga penyerbuk asal Tanzania sebelumnya juga disebut melibatkan penelitian, pengujian dan karantina secara ketat sebelum implementasi di lapangan.

"Pengembangan di SRS khususnya E. Plagiatus menghadapi kendala jika suhu di insektarium tinggi” jelas Dr Fizrul Indra Lubis

Tetapi menurut Dr Fizrul Indra Lubis, kondisi tersebut kemudian diatasi dengan pengaturan suhu ruang sehingga dapat berkembang dengan baik. Saat ini, serangga tersebut telah mencapai generasi keempat.

"Sudah turunan keempat dan memang dia bisa berkembang di Indonesia. Sudah mulai beradaptasi," jelas Dr Fizrul Indra Lubis. (WAHYU KRIDA/j)