PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pelepasan serangga penyerbuk kelapa sawit asal Tanzania di Kalimantan telah mempertimbangkan potensi dampaknya terhadap ekosistem lokal. Hasil proses karantina dan penilaian menyatakan tidak ditemukan persoalan yang menghambat pelepasan serangga tersebut.

Head of Research (HOR) Sulung Research Station Dr Fizrul Indra Lubis usai kegiatan pelepasan tiga spesies serangga penyerbuk kelapa sawit asal Tanzania di Karang Taba Estate, kawasan perkebunan PT Sawit Mandiri Lestari, Kabupaten Lamandau, Kamis, 10 September 2026 mengatakan aspek keamanan lingkungan menjadi salah satu perhatian utama sebelum tiga spesies serangga penyerbuk asal Tanzania dilepas di perkebunan.

"Ternyata itu tidak dipermasalahkan. Tidak ada masalah sehingga Dinas Karantina sudah memberikan keleluasaan untuk melepaskannya," jelas Dr Fizrul Indra Lubis.

Dr Fizrul Indra Lubis menjelaskan, penilaian dilakukan untuk memastikan serangga yang didatangkan dari Tanzania tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan setelah berada di Indonesia.

Sejumlah aspek menjadi perhatian, mulai dari kemungkinan dampak terhadap serangga lokal, hama dan penyakit tanaman, hingga persaingan dengan spesies yang sudah ada.

"Baik itu lingkungannya, baik itu dampaknya terhadap serangga lokal, baik itu dampaknya terhadap hama penyakit tanaman, baik itu dampaknya terhadap persaingan antarspesies," jelas Dr Fizrul Indra Lubis.

Dengan demikian, menurut Dr Fizrul Indra Lubis, pelepasan tidak hanya didasarkan pada potensi serangga tersebut dalam membantu penyerbukan kelapa sawit, tetapi juga mempertimbangkan aspek keamanan hayati.

Tiga spesies yang dikembangkan yakni Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius plagiatus, dan Elaeidobius subvitatus. Ketiganya berasal dari Tanzania dan sebelumnya telah menjalani proses karantina serta pengembangan sebelum dilepas.

"Khusus E. plagiatus memerlukan proses adaptasi yang panjang karena serangga tersebut hanya dapat berkembang di ruangan dengan suhu terkendali,” jelas Dr Fizrul Indra Lubis

Dr Fizrul Indra Lubis mengatakan, dalam proses pengembangannya, suhu ruang diatur menyerupai kondisi habitat asalnya. Setelah beberapa kali dikembangkan, serangga tersebut telah mencapai generasi keempat dan mulai menunjukkan kemampuan beradaptasi di Indonesia.

"Perkembangan tersebut menjadi bagian dari proses untuk memastikan serangga dapat hidup dan berkembang dalam lingkungan baru tanpa mengabaikan aspek keamanan terhadap ekosistem," jelas Dr Fizrul Indra Lubis.

Menurut Dr Fizrul Indra Lubis, pengembangan dan pelepasan juga dilakukan bertahap. Setelah dikembangkan di Sumatera Utara dan dibagikan kepada 23 perusahaan, serangga tersebut kemudian dikirim ke Kalimantan pada Juni 2026 dan dikembangkan selama beberapa bulan sebelum dilepas pada September.

"Ke depan, pengembangan serangga penyerbuk tersebut diharapkan dapat berlanjut ke wilayah perkebunan lainnya, termasuk hingga Regional 4 Kapuas. Yang penting kita untuk Citra Borneo Indah (CBI) Group sampai dia berkembang, sampai ke regional 4 Kapuas nanti pun kita harapkan melepaskannya," jelas Dr Fizrul Indra Lubis

Dr Fizrul Indra Lubis menambahkan, pendekatan penelitian dan monitoring setelah pelepasan juga menjadi bagian penting dalam introduksi serangga tersebut. 

"Lokasi pelepasan juga diarahkan sebagai tempat pembelajaran, monitoring dan evaluasi pascapelepasan," jelas Dr Fizrul Indra Lubis. (WAHYU KRIDA/j)