JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Bank Indonesia memprakirakan kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 tetap tumbuh secara tahunan. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil atau IPR yang diperkirakan mencapai 224,5.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan penjualan eceran terutama ditopang kelompok suku cadang dan aksesori, disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau.

Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran BI, kelompok suku cadang dan aksesori mencatat indeks sebesar 150,0 atau tumbuh 10,1 persen secara tahunan.

Sementara kelompok makanan, minuman dan tembakau mencatat indeks 317,6 dengan pertumbuhan 0,7 persen yoy.

Di sisi lain, sejumlah kelompok menunjukkan perbaikan meskipun masih berada dalam fase kontraksi.

Kelompok peralatan informasi dan komunikasi mencatat indeks 70,1 atau masih terkontraksi 1,7 persen secara tahunan.

Sementara kelompok barang budaya dan rekreasi mencatat indeks 61,5 atau terkontraksi 1,2 persen yoy.

Secara bulanan, penjualan eceran Agustus 2026 diprakirakan turun tipis sebesar 0,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya atau month to month (mtm).

Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi penurunan kelompok barang lainnya sebesar 4,7 persen secara bulanan.

Namun, sejumlah kelompok masih mencatat pertumbuhan, antara lain peralatan informasi dan komunikasi sebesar 2,5 persen, bahan bakar kendaraan bermotor 2,3 persen, serta suku cadang dan aksesori sebesar 0,8 persen.

Sementara untuk realisasi Juli 2026, IPR tercatat sebesar 224,9 atau tumbuh 1,1 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut membaik dibandingkan Juni 2026 yang mengalami kontraksi 3,0 persen yoy.

Pertumbuhan pada Juli terutama ditopang kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mencatat indeks 318,0 atau tumbuh 2,4 persen secara tahunan.

Kelompok barang lainnya juga mencatat pertumbuhan 5,3 persen yoy dengan indeks sebesar 90,6.

Secara bulanan, penjualan eceran Juli 2026 masih terkontraksi tipis sebesar 0,1 persen.

BI menilai kondisi tersebut dipengaruhi normalisasi permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional dan libur sekolah.

Meski demikian, beberapa kelompok masih tumbuh secara bulanan, yakni barang budaya dan rekreasi sebesar 9,6 persen, barang lainnya 8,4 persen, serta perlengkapan rumah tangga lainnya sebesar 1,6 persen.

Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Oktober 2026 dan Januari 2027 diperkirakan menurun.

Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum Oktober 2026 sebesar 146,5 dan Januari 2027 sebesar 166,0.

Kedua indeks tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang masing-masing berada pada level 155,2 dan 168,1.

ANTARA