MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh – Di tangan perajin, batang-batang rotan yang tumbuh dari kekayaan alam Barito Utara tidak lagi sekadar menjadi bahan baku. Ia bisa berubah menjadi tas, dompet, aksesori, hingga beragam kerajinan dengan sentuhan modern yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Potensi itulah yang kini coba diperkuat Pemerintah Kabupaten Barito Utara. Para perajin rotan didorong untuk tidak berhenti pada pola dan bentuk kerajinan tradisional, tetapi mulai membaca selera pasar, berinovasi, dan berani memadukan rotan dengan material lain seperti kulit.

Langkah tersebut diwujudkan melalui pelatihan lanjutan modifikasi kulit dan anyaman rotan yang diikuti 25 pelaku usaha mikro dan kecil dari sejumlah sentra kerajinan di Barito Utara.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UKM Barito Utara, Agus Siswadi mengatakan pelatihan diarahkan untuk memperkuat kemampuan para perajin agar mampu menghasilkan produk yang semakin kompetitif.

“Melalui pelatihan ini kita ingin meningkatkan keterampilan, wawasan, kreativitas dan inovasi para pelaku usaha dalam mengembangkan kerajinan berbahan dasar rotan dan kulit,” kata Agus di Muara Teweh, Kamis, 10 September 2026.

Bagi pemerintah daerah, tantangan para perajin saat ini tidak hanya terletak pada kemampuan membuat barang. Produk yang dihasilkan juga harus mampu mengikuti perkembangan selera konsumen.

Di tengah persaingan usaha yang semakin dinamis, tampilan, kualitas, ciri khas hingga fungsi produk menjadi bagian penting dalam menentukan apakah suatu kerajinan mampu bertahan di pasar.

Karena itu, anyaman rotan yang selama ini identik dengan produk tradisional mulai diarahkan menuju desain yang lebih modern.

Perpaduan rotan dan kulit menjadi salah satu pendekatan yang dikenalkan kepada peserta.

Dua material tersebut dapat dikembangkan menjadi tas, dompet, aksesori hingga berbagai produk kerajinan lain yang memiliki karakter berbeda dibanding produk konvensional.

“Potensi itulah yang coba dikembangkan pemerintah daerah melalui pelatihan lanjutan modifikasi kulit dan anyaman rotan tahun ini diikuti 25 pelaku usaha mikro dan kecil,” ujar Agus.

Para peserta berasal dari dua wilayah yang selama ini dikenal memiliki potensi kerajinan rotan, yakni Kecamatan Teweh Timur dan Gunung Purei.

Dari Teweh Timur, peserta berasal dari Desa Benangin I, Benangin II, Benangin III, Liju dan Sei Liju.

Sementara dari Gunung Purei, peserta datang dari Desa Lampeong I, Muara Mea, Payang, Berong, Tambaba dan Baok.

Desa Baok menjadi salah satu wilayah dengan jumlah peserta terbanyak, yakni tujuh orang.

Selama mengikuti pelatihan, para perajin tidak hanya mendapatkan pengetahuan dalam bentuk teori.

Mereka juga langsung menjalani praktik bersama praktisi kerajinan rotan asal Palangka Raya yang memiliki pengalaman dalam pengembangan produk berbahan dasar rotan.

Melalui proses tersebut, peserta diajak melihat bahwa nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku.

Sentuhan desain, kualitas pengerjaan, kreativitas dan kemampuan membaca pasar dapat membuat rotan yang sederhana memiliki nilai ekonomi jauh lebih besar.

Agus menilai kemampuan melakukan modifikasi produk menjadi penting agar usaha kerajinan masyarakat tidak berjalan stagnan.

Pelaku usaha dituntut terus menciptakan produk yang memiliki identitas, berkualitas dan mampu menarik perhatian konsumen.

“Dengan adanya keterampilan ini, kita berharap peserta mampu menghasilkan produk yang berkualitas, menarik dan memiliki nilai jual. Pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan para pelaku usaha,” jelasnya saat mengunjungi peserta pelatihan pada hari kedua.

Harapan pemerintah tidak berhenti pada selesainya kegiatan pelatihan.

Keterampilan yang diperoleh diharapkan dibawa pulang ke desa masing-masing, dikembangkan dalam kegiatan usaha, dan perlahan membuka peluang pasar yang lebih luas.

Bagi Barito Utara, rotan memang bukan komoditas baru. Bahan alam tersebut telah lama akrab dengan kehidupan masyarakat, terutama di kawasan yang menjadi sentra kerajinan.

Namun, tantangannya kini adalah bagaimana kekayaan lokal itu tidak berhenti sebagai bahan mentah atau produk dengan nilai ekonomi terbatas.

Melalui inovasi, pemerintah berharap rotan dapat menjadi bagian dari usaha kreatif yang mampu menopang penghasilan masyarakat.

Pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program 11.12 GASPOL Bupati dan Wakil Bupati Barito Utara, khususnya pada aspek pemberdayaan masyarakat, pengembangan usaha dan peningkatan produktivitas.

“Melalui program ini pemerintah daerah berupaya mendorong pelaku usaha agar semakin mandiri, kreatif dan mampu memanfaatkan potensi lokal menjadi produk ekonomi yang bernilai,” kata Agus.

Dari desa-desa di Teweh Timur dan Gunung Purei, harapan itu kini mulai dirajut.

Seperti anyaman rotan yang membutuhkan ketelitian untuk membentuk pola yang kuat, pengembangan usaha kerajinan pun membutuhkan keterampilan, kreativitas dan keberanian untuk terus berubah.

Jika proses itu berjalan konsisten, rotan Barito Utara bukan tidak mungkin tampil lebih jauh, dari produk kerajinan lokal menjadi komoditas kreatif dengan nilai jual yang lebih tinggi.