PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kabut asap yang menyelimuti ruas jalan Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama menyimpan cerita duka yang mendalam. 

Di balik pekatnya jelaga dan kobaran api yang melahap hektare lahan di Kilometer 19, ada jiwa-jiwa tulus yang mempertaruhkan nyawa demi keselamatan sesama. 

Kamis, 10 September 2026, sore, lembaran sejarah kemanusiaan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mencatat gugurnya seorang putra terbaik bangsa di medan juang pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Aries Sutio Lutfhil Hadi, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Posko Danau Masoraian, Kecamatan Kotawaringin Lama, harus menghembuskan napas terakhirnya setelah berjibaku dengan kobaran api. 

Berawal dari kepulan asap pekat di wilayah KM  KM 19 hingga titik penanganan di KM 18, Aries bersama rekan-rekan relawan lainnya tak kenal lelah memadamkan bara yang kian mengancam.

Namun, medan yang berat dan pekatnya asap beracun perlahan merenggut tenaganya. Di tengah tugas mulia tersebut, Aries mendadak merasakan sesak napas akut akibat kelelahan luar biasa dan paparan asap pekat. 

Langkah kakinya terhenti, namun semangatnya tak pernah padam. Ia segera dilarikan darurat menuju RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun untuk mendapatkan perawatan intensif.

Takdir berkata lain. Tim medis telah berupaya maksimal, namun Tuhan berkehendak lain. Nyawa pahlawan tanpa tanda jasa ini tidak tertolong. Kesedihan keluarga dan rekan sesama relawan pecah di rumah sakit. 

Dalam suasana yang sarat duka, Bupati Kobar Hj. Nurhidayah tampak hadir langsung di RSUD Sultan Imanuddin untuk memberikan penghormatan terakhir, sekaligus melepas kepulangan jenazah menuju rumah duka.

Media sosial seketika dibanjiri gelombang belasungkawa. Warga Kotawaringin mengunggah potret almarhum saat masih mengenakan seragam lapangan, berdiri gagah di tengah kepulan asap Karhutla. 

Unggahan-unggahan tersebut dipenuhi doa dan rasa kehilangan yang mendalam dari masyarakat yang merasakan betul jasa besar para relawan.

Kepergian Aries Sutio Lutfhil Hadi bukan sekadar kehilangan bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga luka mendalam bagi seluruh pejuang kemanusiaan di Kalimantan Tengah. 

Peristiwa tragis ini kembali membuka mata banyak pihak bahwa Karhutla bukan sekadar bencana ekologis yang merusak lingkungan, melainkan ancaman nyata yang telah merenggut nyawa manusia di garis depan.

Tragedi ini menjadi pengingat yang begitu mahal harganya. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar. 

Dampaknya terlampau besar merusak kesehatan, melumpuhkan pelayanan publik, mematikan roda ekonomi, hingga merenggut nyawa pejuang kemanusiaan yang berjuang tanpa pamrih.

Selamat jalan, Aries Sutio Lutfhil Hadi. Pengorbananmu di bumi Kotawaringin Barat, akan selalu dikenang dalam setiap embusan napas udara bersih yang kami hirup kelak. (DANANG/y)