BORNEONEWS, Sampit - Upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan melalui kolaborasi antara desa, masyarakat, dan perusahaan.
Di Desa Biru Maju, Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sinar
Mas Agribusiness and Food melalui PT Buana Artha Sejahtera (BAS) bersama pemerintah
desa dan masyarakat meresmikan program budidaya ayam petelur sebagai salah satu
inisiatif pemberdayaan ekonomi masyarakat (community economic empowerment).
Peresmian program dihadiri oleh Camat Telawang, Kepala Desa Biru Maju, pengurus Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes), serta perwakilan manajemen perusahaan. Dalam program ini, perusahaan memberikan dukungan berupa 800 ekor pullet ayam petelur, 100 sak pakan ayam, obat, vaksin serta vitamin, untuk mendukung keberlangsungan budidaya. Program ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat sumber pendapatan masyarakat, sehingga perekonomian desa dapat tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.
Penyaluran ayam petelur telah dilakukan sejak bulan Juli lalu, dan saat ini telah berproduksi
dengan tingkat produktivitas mencapai 92 persen atau sekitar 24 papan telur per hari.
Capaian tersebut menjadi modal awal bagi pengembangan usaha agar dapat memberikan
manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan desa.
Deddy Jauhari, selaku Camat Telawang, mengapresiasi dukungan terhadap pengembangan
ekonomi masyarakat di Desa Biru Maju.
“Kami menyambut baik program ini, karena memberikan peluang bagi desa untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang produktif. Harapannya budidaya ayam petelur ini dapat dikelola dengan baik, berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Biru Maju,” jelas Deddy.
Lukman Rianto, selaku direktur BUMDes, mengatakan bahwa pengelolaan budidaya ayam
petelur menjadi pengalaman baru bagi BUMDes dalam mengembangkan unit usaha desa 2 secara lebih terstruktur.
“Melalui program ini, kami belajar tidak hanya mengenai budidaya ayam petelur, tetapi juga bagaimana mengelola usaha dengan lebih tertib, mulai dari pencatatan produksi, penggunaan pakan, hingga pengelolaan hasil penjualan. Pendampingan yang diberikan sangat membantu kami dalam menjalankan usaha ini dengan lebih baik,” kata Lukman.
Figure 2 PT BAS medorong peningkatan kemampuan usaha manajemen budidaya ayam petelur.
Untuk memastikan program dapat berkembang secara berkelanjutan, PT BAS akan
melanjutkan dukungan melalui pendampingan secara intensif. Perusahaan juga bekerja
sama dengan lembaga Sekolah Tani Indonesia (STI) dengan menugaskan seorang staf
fasilitator untuk mendampingi pengelola BUMDes dalam meningkatkan kemampuan
pengelolaan usaha, termasuk administrasi dan manajemen budidaya ayam petelur.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu pengelola meningkatkan efisiensi
usaha, melakukan pencatatan dan administrasi secara lebih tertib, serta mengembangkan
budidaya ayam petelur sebagai unit usaha desa yang semakin profesional. Pengelola
BUMDes sebelumnya juga telah menjalani pelatihan bersama yang difasilitasi oleh
perusahaan pada Agustus lalu, untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha desa.
Mulkan Nasution, Regional Controller Kalimantan Tengah 3, selaku perwakilan Manajemen
PT BAS, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan
untuk menciptakan manfaat jangka panjang melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan
masyarakat.
“Kami ingin program ini tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi
berkembang menjadi usaha yang mampu dikelola secara mandiri oleh desa. Dengan fondasi
pengelolaan yang semakin baik, budidaya ayam petelur ini dapat menjadi salah satu sumber
pendapatan bagi desa,” jelas Mulkan.
Menurutnya, kemandirian ekonomi masyarakat dan keberlanjutan operasional perusahaan
dapat berjalan beriringan melalui sinergi dan komunikasi yang baik antara perusahaan,
pemerintah desa, dan masyarakat.
Dengan produksi yang telah berjalan dan pengelolaan yang terus diperkuat, budidaya ayam
petelur kini menjadi salah satu unit usaha produktif BUMDes Biru Maju. Pendampingan yang
dilakukan selanjutnya akan difokuskan pada penguatan tata kelola dan kapasitas pengelola
agar usaha dapat terus berkembang dan memberikan nilai ekonomi bagi desa. (ADVENTORIAL)









