BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Timur, telah membakar atau berdampak pada lahan seluas 513,7 hektare. Di tengah tingginya aktivitas kebakaran tersebut, kualitas udara juga menjadi perhatian setelah rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam tujuh hari terakhir mencapai 304,2 atau masuk kategori “Berbahaya”.
Data tersebut tercantum dalam dashboard Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur yang dipantau pada Jumat, 11 September 2026. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 422 kejadian karhutla yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kejadian karhutla sebagai bagian dari langkah pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran.
“Data kejadian karhutla terus kami pantau sebagai bagian dari upaya pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan di Barito Timur,” tuturnya.
Berdasarkan sebaran kejadian, Kecamatan Paju Epat mencatat jumlah karhutla tertinggi dengan 93 kejadian dan luasan lahan terdampak mencapai 108,2 hektare. Selanjutnya Pematang Karau mencatat 89 kejadian dengan luasan 142,3 hektare, Karusen Janang 73 kejadian seluas 83,2 hektare, serta Dusun Timur sebanyak 67 kejadian dengan luasan 57,7 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Pematang Karau, misalnya, berada di posisi kedua dari sisi jumlah kejadian, tetapi menjadi kecamatan dengan luasan lahan terdampak terbesar, yakni 142,3 hektare.
Selain kerusakan dan dampak terhadap lahan, kondisi kualitas udara juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dashboard BPBD Damkar Barito Timur mencatat rata-rata ISPU selama tujuh hari terakhir mencapai 304,2 dan masuk kategori “Berbahaya”.
Dampak kualitas udara buruk juga tercermin dalam data kejadian wabah penyakit. Sebanyak 195 kejadian tercatat dengan total 1.267 jiwa terdampak. Meski demikian, dalam data tersebut tidak tercatat adanya korban jiwa akibat kejadian wabah penyakit.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah juga melakukan langkah pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Salah satunya melalui distribusi air bersih, dengan sebanyak 252 kepala keluarga (KK) tercatat menerima bantuan dengan total distribusi mencapai 12.000 liter air.
Tingginya luasan lahan terdampak karhutla yang disertai kondisi kualitas udara dalam kategori berbahaya menunjukkan bahwa penanganan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga membutuhkan upaya pencegahan dan mitigasi terhadap dampak lanjutan bagi masyarakat.
BPBD Damkar Barito Timur terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan karhutla di berbagai wilayah. Kesiapsiagaan dan penanganan secara terpadu diperlukan untuk menekan potensi meluasnya kebakaran sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan, kualitas udara, dan aktivitas masyarakat. (AGUSTINUS BOLE MALO/Y)









