BORNEONEWS, Tamiang Layang – Camat Dusun Tengah Prismayandi bergerak cepat merespons dampak kemarau panjang yang mulai mengganggu ketersediaan air bersih di sejumlah sekolah dasar di wilayah Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur.
Prismayandi memimpin langsung penyaluran air bersih ke sekolah-sekolah yang mengalami keterbatasan pasokan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar siswa dan tenaga pendidik tetap terpenuhi, terutama setelah kegiatan pembelajaran tatap muka kembali diberlakukan dengan pembatasan jam belajar mulai Jumat, 11 September 2026.
“Menindaklanjuti hal tersebut maka ketersediaan air di sekolah-sekolah tersebut menjadi penting. Karena salah satu yang terdampak kemarau, karhutla, kabut asap dan keterbatasan air bersih adalah anak-anak,” ujar Prismayandi di sela kegiatan penyaluran air bersih.
Menurutnya, ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan penting yang harus dipastikan ketika sekolah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Selain untuk kebutuhan minum dan sanitasi, air juga diperlukan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah selama aktivitas belajar berlangsung.
Berdasarkan data ketersediaan air bersih sekolah dasar di Kecamatan Dusun Tengah per 10 September 2026, terdapat 22 sekolah yang tersebar di Ampah Kota, Ampah II, Putai, Saing, Rodok, Sumber Garunggung, Netampin dan Muara Awang.
Sumber air di sekolah-sekolah tersebut cukup beragam, mulai dari PDAM, sumur galian, sumur hingga sungai. Namun, kemarau berkepanjangan membuat sebagian sumber air tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sekolah. Sejumlah sekolah bahkan tercatat mengalami stok air yang tidak mencukupi, tidak tersedia air hingga kondisi sumur mengering.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena dampak kemarau terjadi bersamaan dengan kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Barito Timur. Kondisi itu membuat anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.
Prismayandi mengatakan keterbatasan air bersih berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan apabila tidak segera ditangani. Di tengah kualitas udara yang menurun akibat kabut asap, kebutuhan terhadap air bersih untuk menjaga kebersihan dan kesehatan siswa menjadi semakin penting.
“Selain penyakit ISPA karena kualitas udara yang buruk, kami khawatir kekurangan air bersih di satuan pendidikan dapat menyebabkan anak-anak terkena penyakit lain seperti diare,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Kecamatan Dusun Tengah memastikan sekolah dasar yang mengalami kesulitan air bersih mendapatkan bantuan. Penyaluran diprioritaskan bagi satuan pendidikan yang berdasarkan kondisi lapangan mengalami stok air nihil, tidak memiliki sumber air yang memadai, sumurnya mengering maupun harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air.
“Kami memastikan satuan pendidikan setingkat sekolah dasar yang mengalami kesulitan air bersih mendapatkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan mereka di sekolah,” tegas Prismayandi.
Upaya pemerintah kecamatan tidak hanya menyasar lingkungan sekolah. Pemcam Dusun Tengah juga menyiapkan langkah lanjutan untuk membantu masyarakat yang menghadapi persoalan serupa akibat kemarau panjang.
Salah satu langkah yang disiapkan yakni menyediakan dua tandon air bersih di depan Gedung Batara Lingga. Masing-masing tandon memiliki kapasitas 1.200 liter dan dijadwalkan mulai tersedia pada Senin mendatang.
“Kami juga melakukan langkah-langkah lanjutan, di antaranya pada hari Senin nanti kami menyiapkan dua tandon air dengan kapasitas masing-masing 1.200 liter di depan Gedung Batara Lingga,” ungkapnya.
Keberadaan tandon tersebut diharapkan menjadi salah satu titik layanan air bersih yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Warga yang membutuhkan air dapat mengambilnya secara langsung dengan membawa jeriken atau wadah lainnya.
“Sehingga warga yang membutuhkan air bersih bisa mengambil langsung di tempat tersebut dengan menggunakan jeriken atau wadah yang lainnya,” pungkas Prismayandi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari respons Pemerintah Kecamatan Dusun Tengah menghadapi dampak kemarau panjang 2026. Tidak hanya kebutuhan rumah tangga, ketersediaan air di fasilitas pendidikan turut menjadi perhatian agar aktivitas pembelajaran tetap berjalan dan kesehatan siswa maupun tenaga pendidik tetap terjaga di tengah ancaman kekeringan, karhutla dan kabut asap. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)









