PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat telah menangani 503 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang 1 Juni hingga 10 September 2026.

Ratusan kejadian tersebut mengakibatkan sekitar 1.038,18 hektare lahan terbakar yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Muhammad Heri Pauzi mengatakan, kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya.

“Selama periode 1 Juni sampai 10 September 2026, kami mencatat terjadi 503 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.038,18 hektare. Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya diikuti wilayah di Kecamatan Sebangau,” kata Heri, Sabtu, 12 September 2026.

Berdasarkan data BPBD, Kecamatan Jekan Raya mencatat 334 kejadian karhutla.

Selanjutnya Kecamatan Sebangau sebanyak 105 kejadian, Pahandut 43 kejadian, Bukit Batu 18 kejadian dan Rakumpit tiga kejadian.

Heri menjelaskan, setiap laporan kebakaran langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan personel dan peralatan pemadaman ke lokasi.

Penanganan dilakukan secepat mungkin untuk mencegah api meluas, terutama di kawasan gambut yang memiliki risiko kebakaran lebih besar saat musim kemarau.

Dalam proses pemadaman, BPBD berkolaborasi dengan Manggala Agni, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), pemadam kebakaran, relawan, Masyarakat Peduli Api serta perangkat kecamatan dan kelurahan.

Kolaborasi lintas instansi tersebut mencakup pemadaman darat, patroli terpadu, pemantauan kawasan rawan hingga penyediaan sumber air di sejumlah titik.

Menurut Heri, sinergi menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat pengendalian kebakaran di lapangan.

Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi mengatakan, langkah pencegahan terus diperkuat melalui patroli rutin di wilayah rawan, sosialisasi kepada masyarakat, penyampaian informasi peringatan dini serta pemetaan kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi.

“Kami terus mengedepankan upaya pencegahan karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” katanya.

Pemkot Palangka Raya juga terus meningkatkan koordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan kesiapan personel, peralatan dan logistik selama musim kemarau.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering serta segera melapor apabila menemukan titik api atau kepulan asap.

BPBD menegaskan, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat.

“Dengan keterlibatan semua pihak, potensi meluasnya kebakaran dapat ditekan sehingga dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan,” kata Budi.