SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tidak hanya terjadi di lahan kosong. Api juga merambah perkebunan milik warga dan menyebabkan tanaman sawit terdampak.

Camat Parenggean Muhammad Jais mengatakan terdapat empat desa dan satu kelurahan yang menjadi wilayah rawan kebakaran lahan. Wilayah tersebut yakni Desa Tehang, Desa Kebuau, Desa Menjalin, Desa Bejarau serta satu kelurahan.

Menurutnya, sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan milik masyarakat. Sementara kebakaran di lahan perusahaan dapat ditangani dengan cepat.

"Rata-rata lahan yang terbakar adalah lahan warga. Ada pula lahan perusahaan tetapi cepat penanganannya," kata Muhammad Jais, Sabtu, 12 September 2026.

Untuk mempercepat penanganan, pihak kecamatan sejak awal telah membangun koordinasi dengan berbagai pihak. Wilayah Parenggean dibagi menjadi tiga zona penanganan karhutla yang melibatkan sejumlah perusahaan di sekitar wilayah tersebut.

Setiap zona bertugas menangani kebakaran yang muncul di wilayahnya. Jika kemampuan penanganan di zona tersebut tidak mencukupi, pemadaman akan dikendalikan relawan pemadam kebakaran yang berada di bawah posko induk kecamatan.

Penanganan juga melibatkan TNI, Polri, relawan masyarakat, Regu Pemadam Kebakaran (Redkar), serta Masyarakat Peduli Api (MPA) yang kembali diaktifkan.

Lanjutnya, keterbatasan kendaraan pengangkut air juga dibantu oleh perusahaan pertambangan. Perusahaan menyuplai air menggunakan truk berkapasitas besar untuk mendukung kebutuhan pemadaman di lapangan.

Ia mengungkapkan hingga saat ini belum ada dana khusus untuk penanganan karhutla di Kecamatan Parenggean. Kondisi tersebut membuat pihak kecamatan mengandalkan kolaborasi lintas sektor.

Menurutnya, dukungan perusahaan cukup membantu operasional pemadaman. Bantuan yang diberikan antara lain bahan bakar minyak (BBM), konsumsi relawan, hingga dukungan dalam bentuk uang.

"Karena sampai saat ini belum ada dana keluar untuk penanganan karhutla. Cuman kami Parenggean itu berkomitmen bagaimana kami selaku camat mengendalikan dengan tidak adanya dana itu," katanya.

Ia menambahkan bantuan yang diterima kemudian disalurkan untuk mendukung sejumlah relawan dan posko induk yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Selain lahan, karhutla juga berdampak terhadap perkebunan sawit milik masyarakat. Pendataan secara rinci mengenai luas perkebunan warga yang terdampak masih dilakukan. Namun, berdasarkan perkiraan sementara, terdapat sekitar 50 hektare kebun warga yang terdampak kebakaran.

"Kalau punya warga itu sekitar 50-an hektare itu ada," ungkapnya.

Dampak kebakaran terhadap kebun sawit warga cukup besar karena tanaman yang terbakar membutuhkan waktu sebelum kembali menghasilkan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pendapatan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari perkebunan sawit.

"Dampaknya, ya, memang merugikan. Karena apa? Karena memang namanya kena kebakaran itu mungkin 4-5 bulan tidak bisa produksi mereka," jelasnya.

Ia menyebut wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Desa Menjalin, Bejarau, dan Kebau. Pemerintah Kecamatan Parenggean bersama unsur terkait pun terus memperkuat penanganan agar kebakaran tidak meluas. (DEWI PATMALASARI/y)