TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Timur terus meluas di tengah kondisi musim kemarau. Hingga Sabtu, 12 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Barito Timur mencatat 430 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 525,5 hektare.

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena karhutla berlangsung bersamaan dengan memburuknya kualitas udara. Berdasarkan Dashboard Karhutla BPBD Damkar Barito Timur, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam tujuh hari terakhir mencapai 308,5, yang berada dalam kategori berbahaya.

Angka tersebut menjadi peringatan serius karena dampak karhutla tidak hanya menyasar kawasan yang terbakar, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat akibat paparan asap. Kondisi udara yang memburuk juga menunjukkan bahwa persoalan karhutla di Barito Timur telah berkembang menjadi ancaman lingkungan yang perlu ditangani secara bersama-sama.

Lonjakan kejadian karhutla paling signifikan tercatat pada Agustus 2026. Dalam catatan bulanan BPBD Damkar Barito Timur, sepanjang Agustus terjadi 342 kejadian dengan total luas lahan terbakar mencapai 405,3 hektare.

Sementara itu, hingga 12 September 2026, karhutla kembali bertambah sebanyak 38 kejadian dengan luas lahan yang terbakar mencapai 68 hektare. Data tersebut memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran masih berlangsung memasuki September, meski periode puncak kejadian tercatat pada bulan sebelumnya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla. Menurutnya, kondisi saat ini membutuhkan kepedulian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.

“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang selama ini ikut terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla. Kondisi seperti sekarang membutuhkan kepedulian dan kerja sama semua pihak, karena kebakaran lahan bukan hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat,” ujar Parluhutan.

Berdasarkan sebaran wilayah, Paju Epat menjadi kecamatan dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 98 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 117,7 hektare. Di posisi berikutnya terdapat Pematang Karau dengan 91 kejadian dan luas lahan terbakar 144,8 hektare.

Kemudian Karusen Janang mencatat 71 kejadian dengan luas lahan terbakar 82,2 hektare, disusul Dusun Timur sebanyak 67 kejadian dengan luas 57,7 hektare. Paku tercatat mengalami 39 kejadian dengan luas lahan terbakar 17,4 hektare.

Sementara itu, Dusun Tengah mencatat 16 kejadian dengan luas 8,3 hektare, Awang sebanyak 15 kejadian dengan luas 12,3 hektare, Raren Batuah 15 kejadian dengan luas 3,5 hektare, Patangkep Tutui 13 kejadian dengan luas 68,8 hektare, serta Benua Lima sebanyak lima kejadian dengan luas lahan terbakar 13,3 hektare.

Jika ditinjau dari luas lahan yang terbakar, Pematang Karau menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, yakni mencapai 144,8 hektare. Sementara dari sisi frekuensi kejadian, Paju Epat menjadi wilayah dengan catatan tertinggi, yakni 98 kejadian.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tingginya frekuensi kebakaran tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Namun, keduanya sama-sama menjadi indikator serius terhadap tingginya ancaman karhutla di Barito Timur selama musim kemarau.

Parluhutan menegaskan bahwa tingginya angka kejadian karhutla harus menjadi perhatian bersama. Kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi lebih cepat menjalar dan memperluas wilayah terdampak apabila tidak segera ditangani.

“Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan. Apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan, segera laporkan agar dapat ditangani secepat mungkin sebelum api meluas,” katanya.

Tekanan akibat musim kemarau di Barito Timur tidak hanya terlihat dari meningkatnya karhutla dan memburuknya kualitas udara. Dashboard BPBD Damkar juga mencatat 195 kejadian wabah penyakit dengan total 1.267 jiwa terdampak.

Pada Agustus 2026, tercatat 99 kejadian wabah penyakit dengan 711 jiwa terdampak. Sementara hingga September 2026, terdapat 96 kejadian dengan jumlah warga terdampak mencapai 556 jiwa.

Kondisi kemarau juga berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih. BPBD Damkar Barito Timur mencatat bantuan air bersih telah disalurkan kepada 252 kepala keluarga (KK) dengan total distribusi mencapai 13.200 liter air.

Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa musim kemarau telah menimbulkan dampak berlapis di Barito Timur. Selain memperbesar risiko karhutla dan kabut asap, kondisi tersebut juga berkaitan dengan gangguan kesehatan serta meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air bersih.

Dengan 430 kejadian karhutla, 525,5 hektare lahan terbakar, dan ISPU mencapai 308,5, Barito Timur kini menghadapi tekanan serius akibat musim kemarau. Pencegahan kebakaran dari sumbernya, respons cepat terhadap setiap titik api, serta kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran semakin meluas dan kualitas udara semakin memburuk. (AGUSTINUS BOLE MALO/Y)