PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran memimpin Rapat Evaluasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pos Lapangan Karhutla Jekan Raya.

Gubernur menyampaikan perkembangan penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah yang masih menunjukkan tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan serta luas area terbakar yang cukup signifikan.

Berdasarkan data Posko PDB Karhutla dan analisis citra satelit Kementerian Kehutanan, terdapat perbedaan hasil pendataan, namun kedua sumber data tersebut sama-sama menggambarkan kondisi Karhutla yang perlu mendapat perhatian serius.

Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot dan luasan area terbakar tertinggi, sedangkan Kota Palangka Raya mencatat kejadian Karhutla terbanyak.

Memasuki puncak musim kemarau, peningkatan Karhutla turut memengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan seluruh pihak terkait.

“Ancaman Karhutla yang kita hadapi di Kalimantan Tengah bukanlah persoalan sederhana. Karakteristik lahan gambut, ditambah musim kemarau panjang akibat El Nino yang diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober bahkan awal November 2026, membuat tantangan penanganan semakin berat,” tutur Gubernur seperti dikutip Borneonews pada Minggu, 13 September 2026.

“Seberat apa pun tantangan, saya yakin akan mampu kita atasi selama ada semangat kebersamaan. Bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi bagaimana seluruh kekuatan dapat bergerak bersama untuk menanggulangi Karhutla demi satu tujuan, yaitu melindungi keselamatan masyarakat,” tegasnya. (HERMAWAN DP/R)