PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat adanya perbedaan hasil pendataan Karhutla antara data Posko PDB Karhutla dan analisis citra satelit Kementerian Kehutanan.

Perbedaan hasil pendataan tersebut disampaikan dalam Rapat Evaluasi Penanggulangan Karhutla yang dipimpin Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Pos Lapangan Karhutla Jekan Raya, Palangka Raya.

Meski terdapat perbedaan hasil pendataan, kedua sumber data tersebut sama-sama menggambarkan kondisi Karhutla yang perlu mendapat perhatian serius.

Dalam evaluasi terbaru Satgas Karhutla, sebanyak 2.909 kejadian telah ditangani dengan total luasan mencapai 9.440,36 hektare.

Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot dan luasan area terbakar tertinggi.

Sementara itu, Kota Palangka Raya mencatat kejadian Karhutla terbanyak, disusul sejumlah wilayah lain yang juga terdampak cukup signifikan.

Memasuki puncak musim kemarau, peningkatan Karhutla turut mempengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

“Ancaman Karhutla yang kita hadapi di Kalimantan Tengah bukanlah persoalan sederhana. Karakteristik lahan gambut, ditambah musim kemarau panjang akibat El Nino yang diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober bahkan awal November 2026, membuat tantangan penanganan semakin berat,” tutur Gubernur dalam keterangannya seperti dikutip Borneonews pada Minggu, 13 September 2026. (HERMAWAN DP/R)