BORNEONEWS, Banjarmasin – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengungkap kronologi awal kecelakaan laut yang menimpa KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Kapal tersebut sebelumnya menghadapi cuaca buruk sebelum dilaporkan mengalami perubahan center of gravity atau kemiringan, hingga akhirnya mengirimkan sinyal darurat untuk meminta pertolongan.
Kepala Basarnas RI Mohammad Syafi’i menyampaikan, sebelum kondisi darurat terjadi, awak KM Virgo Transport 8 telah melaporkan kepada pihak perusahaan bahwa kapal sedang menghadapi kondisi cuaca yang tidak baik. Beberapa jam kemudian, kondisi kapal berubah dan mengalami kemiringan.
"Beberapa jam berikutnya dilaporkan bahwa kondisi kapal mengalami perubahan center of gravity atau ada kemiringan dari pihak kapal, dan pada saat itu di-broadcast bahwa kapal membutuhkan bantuan," ujar Mohammad Syafi’i dalam konferensi pers, Minggu sore, 13 September 2026.
Saat meminta bantuan, kapal juga telah mengaktifkan Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) yang berfungsi sebagai tanda keadaan darurat. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti Kantor SAR Banjarmasin yang memiliki kewenangan di wilayah perairan tempat kejadian. Namun, lokasi kecelakaan memiliki jarak cukup jauh dari Banjarmasin sehingga proses pengerahan bantuan membutuhkan waktu.
"Posisi lokasi kejadian kalau ditempuh dari Banjarmasin memakan waktu kira-kira 6 jam," kata Syafi’i. Setelah menerima informasi, Kantor SAR Banjarmasin melakukan analisis cepat dan melaporkannya ke Basarnas Command Center. Selanjutnya, kondisi kedaruratan dideklarasikan kepada seluruh pengguna lalu lintas laut di kawasan Laut Jawa agar kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi dapat ikut memberikan bantuan.
Upaya evakuasi kemudian dilakukan oleh sejumlah kapal yang berada di perairan sekitar lokasi kejadian. TB Mawau 9 dilaporkan mengevakuasi 16 korban, terdiri dari 14 orang selamat, satu orang mengalami cedera berat dan satu orang meninggal dunia. Kemudian TB TCB mengevakuasi enam korban, dengan rincian satu orang selamat dan lima orang meninggal dunia.
Sementara itu, MV Haida berhasil mengevakuasi 69 orang dalam kondisi selamat. KM Cahaya Bahari juga mengevakuasi 22 orang yang seluruhnya dilaporkan selamat. Dengan demikian, dari empat kapal yang telah memberikan bantuan evakuasi tersebut, sementara tercatat 113 orang telah dievakuasi, terdiri dari 107 korban selamat, satu korban cedera berat dan enam korban meninggal dunia.
Proses pemindahan korban dari lokasi kejadian menuju Banjarmasin dilakukan secara bertahap karena perjalanan dari lokasi pencarian menuju pelabuhan membutuhkan waktu sekitar enam jam. Saat konferensi pers berlangsung, sejumlah kapal masih dalam perjalanan menuju pelabuhan di Banjarmasin.
MV Haida menjadi kapal pertama yang diperkirakan tiba dengan membawa 69 korban selamat dan dijadwalkan bersandar sekitar satu jam setelah keterangan tersebut disampaikan. MV Haida kemudian tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada Minggu sore, 13 September 2026.
Untuk memperkuat operasi, Basarnas mengerahkan unsur laut berupa kapal Basarnas yang berada di Banjarmasin, Surabaya dan Makassar menuju lokasi kejadian. TNI AL juga mengerahkan empat KRI yang dilaporkan telah mendekati lokasi. Operasi dari udara diperkuat pesawat Basarnas yang dikerahkan dari Skadron 400 TNI AL Surabaya, satu helikopter Polri, pesawat CN235 TNI AL, serta satu pesawat Caravan milik BNPB.
Selain unsur laut dan udara, unsur di darat juga disiagakan melalui koordinasi Kapolda, Komandan Lanal dan kementerian/lembaga terkait. Syafi’i menegaskan operasi pencarian dan pertolongan mengacu pada pedoman International Maritime Organization (IMO) melalui IAMSAR Guideline, dengan melibatkan TNI, Polri dan seluruh potensi SAR sesuai fungsi masing-masing.
"Basarnas dibantu khususnya dari TNI dan Polri dan juga seluruh potensi, begitu juga dari kementerian/lembaga sesuai dengan fungsinya saat ini operasi sudah digelar dan sedang berlangsung," ujarnya.
Syafi’i menambahkan, seluruh data korban yang disampaikan masih bersifat sementara karena operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung. Sementara penyebab pasti kecelakaan serta rekomendasi keselamatan nantinya akan menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Atas musibah tersebut, Basarnas atas nama pemerintah menyampaikan duka mendalam dan meminta dukungan serta doa masyarakat agar seluruh korban dapat dievakuasi dengan baik. (SABRIANOOR/j)









