PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Keberlanjutan layanan air bersih di Desa Habeahan, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, tidak berhenti setelah jaringan perpipaan dibangun dan mulai dimanfaatkan masyarakat. Perlindungan sumber air di kawasan perbukitan serta pengelolaan jaringan di tingkat desa menjadi dua hal yang kini dipersiapkan secara bersamaan.

Hal tersebut menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan Tahun 2026 Universitas Sumatera Utara (USU) bertajuk “Optimalisasi Sumber Air Perbukitan melalui Program Pipanisasi sebagai Upaya Mitigasi Bencana Kekeringan di Desa Habeahan”.

Dalam rangkaian program tersebut, USU tidak hanya mendorong peningkatan akses air bersih melalui jaringan perpipaan, tetapi juga melakukan konservasi di kawasan sumber air. Tim menanam sekitar 200 bibit pohon aren di bagian hulu dan sekitar mata air yang berada di kawasan perbukitan Desa Habeahan.

Penghijauan kemudian dilanjutkan dengan penanaman bibit pucuk merah di sekitar embung. Vegetasi tersebut diharapkan membantu menjaga kondisi tanah, mengurangi risiko erosi dan limpasan permukaan, sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan di sekitar kawasan penampungan air.

Langkah tersebut menjadi penting karena jaringan perpipaan hanya dapat berfungsi secara berkelanjutan apabila sumber air yang menjadi penopangnya juga tetap terjaga.

Di sisi lain, keberlanjutan layanan dari jaringan perpipaan mulai dibahas melalui Launching dan Focus Group Discussion (FGD) Keberlanjutan Operasi Jaringan Perpipaan Air Bersih di Desa Habeahan, Selasa, 1 September 2026.

FGD yang diikuti pemerintah desa dan masyarakat penerima manfaat membahas pengalaman penggunaan jaringan sekaligus mekanisme pengelolaannya ke depan. Masyarakat, khususnya warga Dusun I dan Dusun II, menyampaikan manfaat jaringan perpipaan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Selama musim kemarau, masyarakat sebelumnya menghadapi keterbatasan air bersih. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci hingga menjaga kebersihan lingkungan.

Kini, setelah jaringan perpipaan beroperasi, tantangannya bergeser. Infrastruktur yang telah tersedia harus dipastikan tetap berfungsi, sementara sumber airnya harus dijaga agar tidak mengalami penurunan kualitas maupun daya dukung.

Kepala Desa Habeahan Rusman Sihombing dalam FGD tersebut memaparkan rencana pembentukan tim pengelola jaringan air bersih di tingkat desa. Tim akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala Desa dan bertanggung jawab terhadap pengoperasian, pemantauan serta pemeliharaan jaringan.

Pemerintah desa bersama masyarakat juga merencanakan penerapan iuran sekitar Rp3.000 per meter kubik air bagi penerima manfaat. Iuran tersebut nantinya digunakan untuk membiayai kebutuhan listrik serta pemeliharaan dan perbaikan jaringan apabila terjadi kerusakan.

Skema tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan program mulai diarahkan tidak hanya bergantung pada pihak yang membangun jaringan. Masyarakat penerima manfaat secara bertahap ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan layanan air bersih.

Sementara dari sisi lingkungan, konservasi di kawasan hulu dan sekitar embung diarahkan untuk menjaga ekosistem yang menopang keberadaan sumber air.

Pohon aren yang ditanam di kawasan hulu memiliki fungsi ekologis sekaligus produktif. Sistem perakarannya dapat membantu mengikat tanah dan mengurangi risiko erosi, sementara hasilnya dapat dimanfaatkan masyarakat. Adapun penghijauan di sekitar embung menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi kawasan penampungan air.

Dengan demikian, program pipanisasi di Desa Habeahan memiliki dua pekerjaan lanjutan yang berjalan beriringan. Pertama, memastikan jaringan air bersih dapat beroperasi dan dipelihara melalui kelembagaan serta pembiayaan di tingkat desa. Kedua, menjaga sumber air melalui konservasi kawasan hulu dan lingkungan sekitar embung.

Ketua tim pengabdian USU, Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, bersama anggota tim Prof. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., Ph.D., Ir. Yusak Maryunianta, M.P., Dr. Ir. Bejo Slamet, S.Hut., M.Si., IPM., Arif Nuryawan, S.Hut., M.Si., Ph.D., dan Nur Ulina Warnisyah Sebayang, M.Agr., menjalankan rangkaian kegiatan tersebut bersama pemerintah desa dan masyarakat.

Keterlibatan masyarakat sejak pembangunan jaringan melalui gotong royong hingga pembahasan pengelolaan menjadi modal penting bagi keberlanjutan program. Begitu pula keterlibatan pemerintah desa dalam menyiapkan kelembagaan pengelola.

Pada akhirnya, keberlanjutan air bersih di Desa Habeahan tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh air dapat dialirkan melalui pipa. Keberadaannya juga bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga sumber air, merawat infrastruktur dan membangun sistem pengelolaan yang dapat berjalan dalam jangka panjang.

Dari hulu hingga keran rumah warga, pengelolaan air bersih di Desa Habeahan mulai diarahkan sebagai satu kesatuan: sumbernya dijaga, infrastrukturnya dirawat, dan pengelolaannya melibatkan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/j)