BORNEONEWS, Sampit – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih sangat tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim mencatat sebanyak 395 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah tersebut.
Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, dari ratusan hotspot yang terpantau, wilayah Teluk Sampit menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak.
"Untuk rekap hari ini kita mencatat ada 395 hotspot. Terbanyak itu ada di Teluk Sampit, sekitar 93 titik," katanya, Senin, 14 September 2026.
Menurutnya, tingginya jumlah hotspot tersebut sejalan dengan kondisi cuaca yang masih sangat kering. Berdasarkan indeks potensi kebakaran, kondisi permukaan lahan di Kotim pada 15 hingga 21 September 2026 masih berada dalam kategori berpotensi tinggi.
Kondisi serupa juga terlihat pada lapisan tanah dengan kedalaman 5 hingga 10 sentimeter. Indeks menunjukkan potensi kebakaran masih berada pada kategori tinggi.
"Di lapisan 5 sampai 10 sentimeter itu tetap masih tinggi. Jika terjadi penjalaran, dia akan lebih cepat berkembang dan tetap bertahan apabila tidak ada hujan dalam beberapa hari ini," jelasnya.
Sementara itu, kondisi yang lebih mengkhawatirkan terdapat pada lapisan tanah di bawah 10 sentimeter. Berdasarkan pemantauan BMKG, lapisan tersebut berada dalam kondisi sangat mudah terbakar.
Mulyono mengingatkan kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Minimnya hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat lahan di Kotim semakin kering sehingga api berpotensi lebih cepat menyebar apabila terjadi kebakaran.
"Untuk daerah Kabupaten Kotawaringin Timur beberapa saat ini kondisinya sangat kering sekali," tegasnya.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar sangat berisiko dilakukan dalam kondisi seperti saat ini.
Selain itu, masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum api meluas.
Kondisi cuaca kering tersebut juga menjadi tantangan bagi upaya penanganan karhutla di Kotim. Tanpa adanya hujan dalam beberapa hari ke depan, api yang muncul berpotensi lebih cepat menjalar dan bertahan di lahan yang kering. (DEVI/R)









