PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Suasana di Gang Junju, Jalan A. Yani, RT 24, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mendadak berubah menjadi kepanikan, saat kobaran api muncul dan dengan cepat membesar di tengah permukiman, Senin, 14 September 2026. 

Rumah-rumah yang sebagian besar berbahan kayu membuat si jago merah leluasa menjalar dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

Dalam waktu singkat, tiga rumah dan satu warung sembako terdampak kebakaran.

Bangunan yang terbakar masing-masing milik Yuliana, Adi Wibowo, Sumiyati, dan Arif Laksono.

Rumah milik Yuliana diduga menjadi titik awal kebakaran. Saat api muncul, Yuliana diketahui sedang tidak berada di rumah.

Dari bangunan tersebut, api kemudian merambat ke bangunan di sekitarnya. Kepulan asap dan kobaran api membuat situasi di lingkungan permukiman tersebut semakin mencekam

Laporan kebakaran diterima Damkar Kobar dari Muhammad Wisnu. Tanpa menunggu lama, tujuh unit kendaraan pemadam langsung dikerahkan menuju lokasi. Respons petugas berlangsung sekitar lima menit.

Satu unit PMI turut diterjunkan untuk mendukung penanganan. Sesampainya di lokasi, petugas langsung berjibaku memutus perambatan api sekaligus melindungi bangunan lain yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Bukan hanya memadamkan kobaran, petugas juga melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi kembali menyala.

Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, Sarana dan Prasarana Damkar Kobar, Fahliansyah, mengatakan kecepatan laporan masyarakat dan respons petugas menjadi bagian penting dalam menangani kebakaran.

Terlebih, kondisi bangunan di lokasi yang sebagian besar berbahan kayu membuat api dapat membesar dan merambat dengan cepat. 

“Begitu laporan kami terima, personel langsung bergerak menuju lokasi. Bangunan yang sebagian besar berbahan kayu membuat api lebih cepat membesar dan merambat. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila melihat tanda-tanda kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin,” ujar Fahliansyah.

Peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, kerugian materi akibat kebakaran ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Di balik kerugian tersebut, peristiwa di Gang Junju kembali memperlihatkan betapa cepat sebuah kebakaran dapat berubah menjadi bencana ketika terjadi di kawasan permukiman.

Api yang awalnya hanya berada di satu bangunan dapat menjalar ke bangunan lain, terutama ketika jarak antarbangunan berdekatan dan material yang digunakan mudah terbakar.

Bagi petugas pemadam, lima menit bukan sekadar hitungan waktu. Dalam kondisi kebakaran, setiap menit dapat menentukan seberapa luas api merambat dan berapa banyak bangunan yang masih bisa diselamatkan.

Karena itu, Kepala Damkar Kobar Dwi Agus Suhartono kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan potensi sumber api di rumah.

“Kejadian ini kembali mengingatkan kita bahwa kebakaran dapat berkembang sangat cepat. Masyarakat kami imbau untuk selalu memastikan kondisi instalasi listrik, kompor, dan sumber api lainnya sebelum meninggalkan rumah. Yang tidak kalah penting, segera laporkan kejadian kebakaran agar petugas dapat memberikan respons secepat mungkin,” kata Suhartono.

Penyebab pasti kebakaran hingga kini masih dalam penanganan dan pemeriksaan pihak terkait.

Sementara api telah berhasil dipadamkan dan petugas melakukan pendinginan untuk memastikan kawasan tersebut benar-benar aman.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, empat bangunan yang terdampak menjadi pengingat bahwa di tengah padatnya permukiman, kewaspadaan dan kecepatan melapor dapat menjadi pembeda antara api yang segera terkendali dan kebakaran yang semakin meluas. (DANANG/j)