SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim mencatat fenomena El Nino masih berada pada kategori sangat kuat dan berpotensi menekan curah hujan di wilayah tersebut. Ini membuat kabupaten setempat  menghadapi kondisi cuaca yang semakin kering. 

Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari anomali suhu muka laut di wilayah Pasifik yang menjadi salah satu indikator fenomena El Nino.

"Untuk bulan Agustus, analisis anomali suhu muka laut di Pasifik nilainya plus 2,83. Ini mencirikan bahwa kita memasuki fase El Nino sangat kuat," kata Mulyono, Senin, 14 September 2026.

Itu ia sampaikan saat rapat koordinasi penangan karhutla di rumah jabatan Bupati Kotim. Pada kesempatan tersebut ia mengungkapkan memasuki September 2026, kondisi tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan. Indeks El Nino 3.4 tercatat berada pada angka plus 2,76. Angka tersebut masih masuk dalam kategori El Nino sangat kuat.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan suhu muka laut di wilayah Pasifik jauh lebih hangat dibandingkan perairan Indonesia. Sementara wilayah perairan Indonesia relatif lebih dingin.

Selain El Nino, BMKG juga memantau Dipole Mode Index (DMI). Berdasarkan pemantauan, kondisi DMI berada dalam fase netral menuju positif.

"Ketika DMI positif dan indeks El Nino masih sangat kuat, ini akan berkontribusi terhadap pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Kotawaringin Timur. Jadi semakin kering," jelasnya.

Kondisi tersebut juga telah terlihat dari catatan curah hujan selama Agustus 2026. BMKG Kotim mencatat curah hujan di wilayah Kotim berada dalam kategori sangat rendah, yakni hanya berkisar 0-20 milimeter.

Bahkan, di sejumlah wilayah tidak tercatat adanya hujan selama periode tersebut. Sifat hujan juga masuk kategori sangat kering karena berada jauh di bawah kondisi normal, yakni hanya sekitar 0-30 persen dari normalnya.

Mulyono menambahkan, kondisi kering juga terlihat dari monitoring hari tanpa hujan yang dilakukan BMKG dalam 10 dasarian terakhir.

BMKG mencatat sebagian besar wilayah Kotim mengalami hari tanpa hujan dalam waktu cukup panjang. Beberapa wilayah bahkan belum menerima hujan dengan intensitas lebih dari 1 milimeter selama lebih dari 60 hari.

"Hujan yang terjadi belum lama ini merupakan hasil modifikasi cuaca. Untuk wilayah Sampit dan sekitarnya, hujan lebih banyak terjadi di wilayah Ketapang dan sekitarnya," ujarnya.

Meski sempat terjadi hujan hasil modifikasi cuaca, Mulyono mengingatkan kondisi tersebut belum serta-merta mengubah pola cuaca secara keseluruhan.

Pengaruh El Nino yang masih sangat kuat ditambah kondisi DMI netral menuju positif berpotensi membuat Kotim tetap berada dalam kondisi kering.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim.

Minimnya curah hujan membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar serta menyulitkan proses pemadaman.(DEVI/R)