SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur memastikan fasilitas kesehatan tetap siaga menghadapi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi mengatakan, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) memang mengalami peningkatan. Namun kenaikan tersebut masih tergolong tidak signifikan berdasarkan data kunjungan di fasilitas kesehatan.

"Untuk kasus ISPA, kalau mereka yang kunjungan ke faskes kita memang ada kenaikan, tapi tidak signifikan," kata Umar Kaderi saat rapat koordinasi penanganan karhutla, Senin, 14 September 2026.

Jumlah kasus yang tercatat di faskes belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di masyarakat. Sebab, ada kemungkinan sebagian warga memilih melakukan pengobatan secara mandiri dengan membeli obat di apotek ketika mengalami gejala ISPA ringan.

"Data di praktik mandiri ini belum kami dapatkan. Jadi data yang ada baru di faskes," ujarnya.

Selain ISPA, Dinkes Kotim juga mencatat adanya peningkatan kasus diare di sejumlah kecamatan hingga awal September 2026. Meski demikian, kasus yang ditemukan sejauh ini masih dapat ditangani di tingkat puskesmas.

"Ada beberapa kecamatan yang memang ada peningkatan kasus diare. Akan tetapi, untuk kasus-kasus berat insyaallah belum kami temukan sampai saat ini," jelasnya.

Umar menyebut sejumlah pasien dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut masih dapat dirawat di puskesmas. Hingga saat ini belum ditemukan kasus berat yang mengharuskan pasien dirujuk ke rumah sakit akibat kondisi tersebut.

Di tengah kondisi kabut asap, Dinkes juga memperkuat kesiapsiagaan layanan kesehatan dengan mengaktifkan rumah oksigen di seluruh puskesmas.

"Kita juga punya rumah oksigen. Setiap puskesmas sudah kami instruksikan agar menyiapkan rumah oksigen 24 jam dan alhamdulillah sudah berfungsi," katanya.

Saat ini terdapat 21 puskesmas yang telah menyiapkan rumah oksigen dan satu layanan PSC 119 untuk mendukung penanganan masyarakat yang terdampak kabut asap.

Umar mengungkapkan, beberapa waktu terakhir pihaknya juga telah menangani warga yang mengalami dampak asap cukup berat. Mereka dievakuasi ke fasilitas kesehatan melalui PSC 119.

"Beberapa masyarakat kita yang terkepung oleh asap kita bawa ke faskes kita di PSC 119. Semua bisa kita tangani dan tidak kita rujuk ke rumah sakit," ungkapnya.

Selain kesiapan fasilitas dan tenaga kesehatan, Dinkes Kotim juga memastikan ketersediaan obat-obatan dan bahan medis habis pakai (BMHP) untuk penanganan dampak karhutla.

Ia mengatakan kebutuhan BMHP terkait karhutla telah dianggarkan melalui APBD Perubahan. "Alhamdulillah di perubahan sudah kita anggarkan untuk kegiatan BMHP terkait dengan karhutla," ujarnya.

Umar memastikan stok obat-obatan di fasilitas kesehatan masih mencukupi untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat selama kondisi kabut asap berlangsung. "Kami memastikan obat-obatan cukup," tegasnya.

Dinkes Kotim pun mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap, terutama sesak napas atau keluhan pernapasan lainnya, agar segera memanfaatkan fasilitas kesehatan dan tidak menunda mendapatkan penanganan. (DEVI/R)