SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih mengalami periode hari tanpa hujan yang cukup panjang

Berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat wilayah yang belum menerima curah hujan lebih dari 1 milimeter selama sekitar 60 hari.

Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari hasil monitoring hari tanpa hujan dalam 10 dasarian terakhir.

Meski dalam beberapa waktu terakhir terdapat hujan hasil modifikasi cuaca, sebarannya masih terbatas dan belum mampu menjangkau seluruh wilayah yang mengalami kekeringan.

"Kita melihat dalam 10 dasarian terakhir, kita kemarin ada menerima hujan dari modifikasi cuaca di daerah Sampit dan sekitarnya. Itu lebih ke wilayah Ketapang dan sekitarnya, ada hujan lebat," ujarnya, Senin, 14 September 2026.

Dalam peta monitoring BMKG, wilayah yang menerima hujan tersebut ditandai dengan warna hijau. Bahkan, terdapat satu titik berwarna hijau di sekitar Sampit yang menunjukkan adanya curah hujan.

Sementara itu, sebagian wilayah lainnya masih ditandai dengan warna merah dan merah muda (pink). Warna tersebut menunjukkan wilayah yang belum menerima hujan dengan curah lebih dari 1 milimeter dalam kurun waktu sekitar 60 hari.

"Kita melihat ada titik hijau satu di daerah Sampit. Sisanya ada warna merah dan warna pink. Itu mengindikasikan bahwa di daerah itu belum menerima hujan lebih dari 1 milimeter selama 60 hari," jelasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan yang terjadi belum merata di wilayah Kotim. Sehingga, meskipun beberapa daerah telah mendapatkan guyuran hujan, wilayah lainnya masih menghadapi periode kering yang cukup panjang.

BMKG pun terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan kondisi hari tanpa hujan di wilayah Kotim.

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam melihat potensi kekeringan, termasuk kaitannya dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Masyarakat di wilayah yang masih mengalami hari tanpa hujan panjang diimbau tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara terbuka. (DEVI/R)